Kata Ingrid, salah satu kriteria utama yang menjadi perhatian Ipemi adalah para perempuan inspiratif. Mereka tidak hanya yang memiliki jabatan, tetapi juga yang benar-benar berkontribusi terhadap sesama.
Perempuan inspiratif yang diberi penghargaan oleh Ipemi adalah mereka yang mampu memanusiakan manusia, memahami setiap individu, dan perjuangan.
“Sehingga mereka harus dihargai. Mereka harus benar-benar mengerti esensi manusia. Sebab hidup ini bukan soal siapa yang lebih tinggi, melainkan bagaimana menjadi sumber manfaat bagi orang lain,” tutur Ingrid.
Ia meyakini, masih banyak perempuan hebat di pelosok Indonesia yang berperan penting membangun daerahnya. Contohnya Nurjanah dan suami. Keduanya merupakan disable, tapi tetap berkarya dengan membangun sekolah inklusif, memberdayakan masyarakat dan pelaku UMKM di Ternate.
“Jadi, penghargaan ini tidak diberikan bagi mereka yang ngetop, tetapi juga yang benar-benar berjasa bagi sekelilingnya. Penghargaan itu juga kami lengkapi dengan literasi atau buku mengenai kisah mereka,” urai Ingrid.
Ia berharap, buku ini dibaca oleh banyak perempuan Indonesia. Dengan begitu, akan banyak yang terinspirasi, dan menambah perempuan tangguh di Indonesia.
Sebab, menjadi perempuan yang kuat bukan perjalanan mudah. Perlu keteguhan tekad, ketangguhan, dan pemahaman mendalam tentang diri sendiri.
Ingrid juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam peluncuran buku ini. Di antaranya Dody Rahadi yang mewakili Kemenperin, anggota Komisi VI DPR Nanang Samodra, dan seluruh kader Ipemi di Indonesia.
