Namun, di balik tekanan itu, selalu ada ruang untuk melihat momentum. Pelemahan rupiah tidak harus dimaknai semata sebagai krisis. Ia bisa menjadi titik balik—sebuah kesempatan untuk menata ulang arah pembangunan industri nasional.
Gagasan ini sederhana, tetapi mendasar, yakni membangun kemandirian industri berbasis nilai tambah. Tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah, tetapi mendorong hilirisasi yang nyata dan berkelanjutan.

Langkah pertama, kata Sobur tentu dimulai dari hulu. Negara perlu tegas menghentikan kebocoran bahan baku. Kayu, rotan, dan material strategis lainnya harus diprioritaskan untuk industri dalam negeri. Tanpa itu, hilirisasi hanya akan menjadi wacana yang berulang.
Langkah berikutnya adalah memperkuat pasar domestik. Ini bukan sekadar soal proteksi, tetapi strategi menjaga keberlangsungan industri dan lapangan kerja. Pengetatan impor secara selektif dan terukur menjadi salah satu instrumen yang bisa digunakan.
Di saat yang sama, kebijakan industri harus benar-benar berpihak. “Akses pembiayaan yang kompetitif, efisiensi logistik, dan kepastian regulasi menjadi prasyarat agar pelaku usaha dapat bergerak lebih lincah menghadapi dinamika global,” katanya.
Tidak kalah penting, diplomasi dagang perlu diperkuat. Indonesia tidak bisa terus berada di posisi mengikuti arus. Di tengah perubahan peta ekonomi dunia, Indonesia perlu tampil sebagai pemain yang mampu menentukan arah.
Potensi sebenarnya sangat besar. Pasar global mebel diperkirakan mencapai lebih dari USD 200 miliar. Namun, ekspor Indonesia masih berada di kisaran USD 2,4 miliar. Jarak ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan dari peluang yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Dunia saat ini kata lulusan ITB itu sedang mencari basis produksi baru—yang stabil, efisien, dan memiliki nilai tambah tinggi. Indonesia memiliki semua prasyarat itu. Tinggal bagaimana keberanian untuk menata ulang kebijakan dan memperkuat struktur industri secara menyeluruh.
Pada akhirnya, angka Rp17.000 bukan sekadar kurs. Ia adalah pesan. Sebuah peringatan bahwa model lama tidak lagi cukup untuk menghadapi masa depan.
Dan jika peringatan ini kembali diabaikan, maka yang perlahan melemah bukan hanya Rupiah—tetapi juga masa depan industri Indonesia itu sendiri. (aryodewo)
