Menurut Giwo, kiprah dan peran perempuan Indonesia yang semakin meluas ke berbagai sektor.
Mencerminkan bahwa perempuan semakin berdaya, semakin percaya diri, dan memiliki ruang yang lebih terbuka untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
“Menjadi indikator bahwa kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender semakin meningkat,” tegasnya.
Giwo berpendapat perempuan tidak lagi hanya dilihat dari peran domestik, tetapi juga dari kapasitas intelektual, kepemimpinan, dan profesionalisme yang mereka miliki di berbagai bidang, politik, ekonomi, teknologi, hukum, pendidikan, bahkan pertahanan.
“Kita tidak boleh lagi membiarkan adanya diskriminasi gender, baik dalam akses terhadap pekerjaan maupun dalam pengambilan keputusan strategis.
“Setiap orang, tanpa memandang jenis kelamin, harus dinilai berdasarkan kompetensi, integritas, dan dedikasinya,” katanya.
Kemajuan ini, menurut Giwo, tentu perlu terus dijaga dan dorong, agar perempuan Indonesia tidak hanya hadir sebagai pelengkap, tetapi sebagai penggerak perubahan dan pemimpin masa depan.
Giwo menyampaikan secara historis, emansipasi dalam arti membebaskan perempuan dari keterbelakangan sosial sudah dicapai Indonesia.
“Namun, perjuangan perempuan belum usai. Tantangan kita hari ini adalah memastikan kesetaraan gender benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata,” jelasnya.
Menurutnya, kesetaraan menjadi kunci agar perempuan dapat berperan optimal dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
