02/04/2026
AktualEkonomi

Priangan Menjemput Masa Depan: Saat Bambu Menjadi Nafas Baru Ekonomi Kreatif Indonesia

POSSORE.ID, Tasikmalaya — Di sebuah pagi yang teduh di Tasikmalaya, aroma bambu basah menyeruak dari sudut-sudut Pusat Pengembangan Industri Kerajinan (PPIK) Kota Tasikmalaya. Para perajin tampak hilir-mudik menata karya terbaik mereka—anyaman halus, furnitur ringan, hingga instalasi seni yang memadukan tradisi dengan sentuhan modern.

Suasana itu seakan membisikkan satu pesan: Priangan tengah bersiap menegakkan kembali kejayaan kriya yang telah lama mengakar di bumi Pasundan. Di tengah atmosfer yng penuh harapan itulah Priangan Bamboo Fest – Kriya Loka 2025 resmi dibuka. Festival yang berlangsung pada 12–14 Desember 2025 ini bukan sekadar pameran, melainkan cermin sebuah gerakan besar: menjadikan Priangan sebagai episentrum ekonomi bambu Indonesia. Sebuah mimpi, tetapi juga langkah strategis yang nyata.

Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, melalui sambutan yang dibacakan oleh Syahrizal Mustafa, Wakil Sekretaris Jenderal III Himpunan Industri Mebel dań Kerajinan Indonesia (HIMKI) menegaskan bahwa festival ini adalah lebih dari sekadar acara tahunan. “Ini adalah identitas dan masa depan ekonomi kita,” ujarnya. Baginya, kriya bukan hanya warisan budaya, tetapi sebuah industri strategis yang mampu membuka lapangan kerja, menciptakan nilai tambah, sekaligus memperkuat daya saing global Indonesia.

Sobur mengingatkan, Indonesia menyimpan potensi bambu hingga 12 juta hektare, dan Priangan menjadi salah satu pusat terkuatnya. Bila dikelola dengan cara modern, bambu bisa menjadi material masa depan—kuat, ringan, terbarukan, sekaligus rendah karbon. “Dunia sedang bergerak menuju ekonomi hijau, dan Priangan punya peluang besar untuk menjadi pusat ekonomi bambu Indonesia,” tegasnya.

Festival ini tidak hanya menampilkan bambu. Beragam produk kriya lintas material ikut dipamerkan, menjadi simbol pendekatan inklusif HIMKI agar seluruh pelaku industri tumbuh dan naik kelas bersama. Pelaku industri dari enam kota/kabupaten—Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Pangandaran, dan Banjar—larut dalam dinamika festival yang menghadirkan berbagai kegiatan: seminar, fashion show, lomba desain, pertunjukan seni, hingga ruang kolaborasi desain.

Sinergi menjadi kata kunci. HIMKI memberi apresiasi atas kolaborasi solid antara HIMKI Priangan dan Dekranasda Kota Tasikmalaya, terutama dalam pembiayaan bersama serta upaya menggandeng sponsor demi keberlanjutan event yang diharapkan menjadi agenda tahunan.

Dalam pernyataannya, HIMKI juga menyampaikan seruan penting: pemerintah daerah didorong memperkuat kebijakan hilirisasi bambu dan kriya; perbankan diminta membuka akses pembiayaan yang ramah UMKM; akademisi diharapkan memperkuat riset, desain, dan digitalisasi; dan para pelaku industri didorong menjaga mutu, berinovasi, serta memahami kebutuhan pasar global.

Leave a Comment