31/01/2026
Aktual

Pontjo Sutowo: Penguasaan Teknologi Masih Rendah, Indonesia Perlu Visi Iptek

JAKARTA (Pos Sore) — Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo mengungkapkan penguasaan teknologi Indonesia masih sangat rendah. Kondisi ini yang membuat Indonesia sulit menumbuhkan kemandirian dan kemakmuran ekonomi secara berkelanjutan. Hal ini dapat dilihat dari indeks yang dipublikasikan lembaga-lembaga internasional.

Sebut saja dari International Telecomunication Union (ITU) yang pada 2017, menyebutkan indeks teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Indonesia berada di posisi 111 dari 176 negara dengan indeks terbesar 4,34. Sementara dalam World Economics Forum menempatkan Indonesia pada rangking 80 dari 137 negara.

Pontjo menegaskan, teknologi tidak lagi sekedar inovasi, pengetahuan, atau penerapan sains. Melainkan sudah menjadi faktor determinan bagi kemajuan peradaban sebuah bangsa. Persaingan global dewasa ini semakin ketat ditandai dengan kemajuan iptek yang demikian cepat terutama pada aspek Artificial Intelligence, Big Data dan Connectivity atau biasa disebut ABC.

Begitu yang disampaikan Pontjo dalam Forum Group Discussion (FGD) bertema Pembangunan Ranah Material Teknologikal (Tata Sejahtera), Jumat (13/12/2019). FGD tersebut juga menghadirkan pembicara antara lain Prof. Dr Akmal Taher (Dirut RSCM tahun 2012), Prof Dr Muhammad Firdaus (guru besar ilmu ekonomi IPB), Dr Alan Frendy Koropitan (Ketua Akademi Ilmuwan Muda Indonesia), dan Ir Pri Utami (ahli geothermal UGM).

Di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap teknologi luar juga masih sangat tinggi. Bangsa Indonesia masih cenderung sebagai pengguna atau konsumen teknologi ketimbang sebagai penemu, pengembang atau produsen teknologi.

“Padahal, belajar dari kasus banyak negara, penggunaan teknologi telah mampu membangun ketahanan bangsa. Karena teknologi menjadi salah satu kekuatan penggetar bagi bangsa yang mampu menguasainya. Bahkan teknologi telah menjadi harga sebuah kedaulatan bangsa,” tuturnya.

Ilmu pengetahuan dan teknologi juga merupakan tulang punggung pembangunan ekonomi, sehingga muncul paradigma baru yang disebut Tekno-Ekonomi. Menjadikan teknologi sebagai faktor yang memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan kualitas hidup suatu bangsa.

“Untuk merespon perubahan paradigma pembangunan ekonomi, mendesak bagi Indonesia meningkatkan penguasaan dan pengembangan inovasi teknologinya. Dan hal mendasar yang harus dilakukan adalah mengubah visi Iptek Indonesia,” tandasnya.

Ia menyadari sebagian besar masyarakat masih beranggapan bahwa teknologi itu identic dengan manufaktur. Padahal cakupan teknologi itu amat luas. Karenanya, visi iptek sangat diperlukan untuk mendorong dan mengikat semua pihak dalam satu kesatuan langkah pembangunan bidang iptek.

Selain itu, membuat kebijakan dan memperjelas posisi penetrasi iptek ke dalam pembangunan, serta melakukan terobosan berbasis iptek. Beberapa negara seperti China, Korea, India bahkan Malaysia yang saat ini mempunyai basis iptek yang kuat, dimulai dengan meletakkan visi ipek yang benar sehingga kebijakan ipteknya menunjang.

Agar tidak semakin tertinggal, Indonesia bisa belajar dari negara lain yang mampu menggerakkan sistem inovasi teknologinya meliputi kebijakan yang holistic, pengembangan prioritas unggulan serta sinergi dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi dan industry (triple helix).

Pontjo menambahkan, pengembangan inovasi teknologi berbasis pemberdayaan masyarakat juga perlu terus ditingkatkan. Dengan demikian ruang-ruang pengembangan inovasi teknologi menjadi semakin luas dan merata sehingga pembangunan ekonomi berkelanjutan juga akan terwujud. (tety)

Leave a Comment