16/02/2026
Nasional

Politisi PKB Kecam Dalang Teror ke Ketua BEM UGM Usai Mengkritik Prabowo

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto mengkritik MBG.//Foto: Istimewa

POSSORE.ID, Jakarta  — Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, mengkritik anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp335 triliun yang dinilai tidak tepat sasaran.

Kritik itu disampaikan setelah BEM UGM menyoroti kasus seorang anak di Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis sekolah. “Rp335 triliun itu bukan ‘Makan Bergizi Gratis’ tapi ‘…. Gizi’,” kata Tiyo, Jumat (13/2/2026).

Tak disangka, kritik yang menyasar langsung ke program andalan Presiden Prabowo Subianto ini (MBG-red) ternyata langsung mendapat reaksi. Bahkan ancaman. Tiyo mengaku menerima teror berupa pesan teks dan telepon dari pihak tidak dikenal usai ia menyampaikan kritik.

Ancaman yang tidak diketahui dari pihak mana ini pun, langsung memancing reaksi dari politisi PKB di Senayan, Hilman Mufidi. Anggota Komisi X DPR ini mengecam keras tindakan teror terhadap Ketua BEM UGM tersebut.

“Tindakan teror kepada adinda Tiyo, Ketua BEM UGM tentu sangat tidak sepatutnya dilakukan. Saya sangat menyayangkan aksi itu, itu sama saja dengan praktik pembungkaman,” kata Hilman dalam keterangan tertulis kepada Parlementaria yang dikutip media ini, Minggu (15/2/2026).

Hilman mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas siapa dalang di balik aksi teror terhadap Tiyo. Menurutnya suara Tiyo adalah wujud kebebasan berpendapat dan dilindungi oleh hukum.

“Saya minta aparat mengusut tuntas siapa dalam aksi teror ke adinda Tiyo. Bagaimanapun suara Tiyo itu adalah wujud keterbukaan, wujud kebebasan berpendapat yang sangat perlu dihormati,” tegas Politisi Fraksi PKB ini.

Hilman juga mengingatkan semua pihak untuk menahan diri terhadap setiap dinamika yang terjadi, termasuk terkait dengan kasus bunuh diri seorang anak SD di NTT.

“Semua pasti berduka, saya juga sangat prihatin dengan apa yang dialami anak kita di NTT, tapi menyikapi hal itu juga perlu keterbukaan hati, kekuatan pikir, dan setiap kritik terhadap penanganan kasusnya harus disikapi dengan bijak, bukan malah dengan teror,” pungkas Hilman.

Setelah Mengkritik Prabowo

Kasus bunuh diri anak SD di Ngada, NTT, memang menarik perhatian berbagai kalangan di tanah air.

Melalui akunnya, BEM UGM sebagaimana dilontarkan Tiyo, kondisi tersebut menunjukkan ironi karena masih ada anak yang kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan dasar, sementara pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk program MBG.

Ia menilai prioritas pemerintah belum berpihak pada kesejahteraan masyarakat, khususnya di sektor pendidikan dan kesehatan. “Pemerintah masih kalau bahasa Qur’an-nya itu Summun bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uun. Jadi udah buta, tuli, bisu, dan enggak mau berpikir,” ujarnya.

Kritik itu sebelumnya juga disampaikan melalui surat terbuka BEM UGM kepada UNICEF pada 6 Februari 2026. Surat tersebut meminta perhatian dunia internasional terhadap kondisi anak-anak di Indonesia.

Tiyo mengatakan pihaknya berharap ada respons atas surat tersebut, dan memastikan pesan mereka telah diteruskan hingga ke pimpinan lembaga tersebut.

Usai menyampaikan kritik ia lantas mendapatkan teror. Meski demikian, ia menegaskan tidak menganggap teror tersebut sebagai ancaman serius dan tetap akan menyuarakan kritik terkait kebijakan pemerintah.(lia)

Leave a Comment