25 C
New York
20/06/2024
Aktual

Pengamat: Terlambat, Pemilih Beralih ke Calon Lain

JAKARTA (Pos Sore) — Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, masih berhati-hati memajukan Joko Widodo sebagai calon presiden (capres) pada Pemilihan Umum 2014. Demikian pendapat pengamat politik senior dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit.

“Sementara ini Megawati akan mempertimbangkan banyak aspek untuk mencalonkan Jokowi menjadi presiden. Pertimbangan tersebut aspek dari internal partai apakah nantinya ada penggalangan suara atau tidak , dan aspek eksternal apakah Jokowi memiliki banyak potensi,” jelas Arbi menjawab Pos Sore.

Dari semua perimbangan Megawati itu, menurut Arbi sebaiknya agar Jokowi dideklarasikan sebelum Pemilihan Umum Anggota Legislatif (Pileg) 9 April. Pertimbangannya, agar bisa merebut hati calon (pemilih) lebih cepat.

“Apalagi, saat ini dikalangan internal sudah ada DPP Barisan Relawan (Bara) Jokowi Presiden 2014. Bahkan politikus senior PDI Perjuangan, Sabam Sirait, berjanji akan bertemu langsung dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk mencalonkan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, menjadi calon presiden,’’ katanya.

“Sebaiknya agar Jokowi dideklarasikan sebelum Pemilihan Umum Anggota Legislatif (Pileg) 9 April. Pertimbangannya, agar bisa merebut hati calon (pemilih) lebih cepat.”

Hal itu tentu saja merupakan titik terang Jokowi bisa menjadi Capres. Bila tidak, pemilih sudah akan memilih capres lain. Artinya bila tak juga diumumkan sebelum Pileg 9 April, berarti langkah Megawati untuk menjadikan Jokowi presiden terlambat.

Menjawab pertanyaan soal karaguan Megawati dan sejumlah tokoh internal partai yang masih menginginkan Mega maju, Arbi mengatakan, apabila Mega masih mau memaksakan diri mencalonkan diri menjadi presiden, sudah kehilangan momentum. “Hal itu disebabkan masyarakat sudah menganggap Megawati gagal dalam memimpin negara. Meskipun secara internal partai Megawati masih kuat untuk cappres 2014, namun belum tentu masyarakat memilihnya,” kata Arbi lagi.

Menurut Arbi, saat ini politik kekeluargaan sudah bukan masanya sehingga masyarakat tidak akan melihat latar belakang capres dari keluarga siapa. Namun menurut dia jika Jokowi menjadi capres, ketokohan Megawati masih berpengaruh.

“Ketua Umum PDIP Megawati selaku pemangku hak prerogatif untuk memutuskan Capres memiliki strategi tersendiri.”

Sementara itu, pengamat politik LIPI, Siti Zuhro menilai, apa yang dilakukan PDIP yang takjuga mencalonkan Jokowi, disinyalir guna menghindari adanya serangan politik negatif dari lawan-lawannya.

Siti mengatakan pertimbangan politik dari PDIP untuk menunda terlebih dulu pencapresan Jokowi memang sangat pelik. Namun ia menyadari, Ketua Umum PDIP Megawati selaku pemangku hak prerogatif untuk memutuskan Capres memiliki strategi tersendiri.

Penahanan pencalonan Jokowi untuk menghindari serangan dari luar ada benarnya. Namhn kenyataan kini pun, serangan politik negatif terhadap Jokowi sudah mencuat. Mulai dari serangan isu KKN dalam pembelian mobil Trans Jakarta yang berkarat, masalah banjir ibu kota dan kemacetan Jakarta yang dituduhkan sebagai bukti Jokowi tidak berpretasi.(junaedi/lya)

Leave a Comment