11.2 C
New York
14/04/2024
Aktual

Pemerintah Xinjiang Razia Muslim Berjenggot

URUMQI (Pos Sore) — Pemerintah Propinsi Xinjiang, sebuah daerah di Cina yang mayoritas penduduknya beragama Islam, pekan lalu menawarkan uang bagi informan yang bersedia memberitahu aparat tentang tetangganya yang memelihara jenggot.

Jumlah imbalan itu cukup besar bagi penduduk Uighur di selatan, ujar Alim Seytoff, jubir untuk badan pembela HAM orang Uighur, World Uyghur Congress (WUC) kepada Al Jazeera pekan lalu.

“Mereka (orang Uighur) sangat miskin. Ini adalah insentif dengan mengkhianati rekan mereka, sesama orang Uighur untuk mendapatkan keuntungan finansial,” tambahnya.

“Mereka (orang Uighur) sangat miskin. Ini adalah insentif dengan mengkhianati rekan mereka, sesama orang Uighur untuk mendapatkan keuntungan finansial.”

Pemimpin muslim ini mengomentari kebijakan pemerintah Cina di daerah Shaya yang mengeluarkan pengumuman tentang hadiah uang sebesar 50 hingga lebih dari 50.000 yuan (setara dengan 8 hingga 8.000 dolar AS) untuk informan yang melaporkan tetangganya yang memelihara jenggot.

Kebijakan ini bukanlah yang pertama kali dilakukan pemerintah Cina lokal untuk menindas tanda-tanda ketaatan orang muslim dalam menjalankan ibadah.

Pada Agustus lalu, Arzugul Memet dipaksa hengkang dari rumah sewanya di barat laut Xinjiang lantaran memakai jilbab. Pemerintah Xinjiang juga meluncurkan kampanye berlabel Proyek Kecantikan dalam upaya mendorong warga lokal untuk tidak memakai jilbab. Di daerah itu, banyak wanita Uighur memakai jilbab.

Namun ini adalah pertama kalinya pemerintah Cina merasa nyaman mempublikasikannya dalam bahasa Inggris sehingga dipahami orang asing.

“Yang menjadi hal baru dan mengkhawatirkan adalah pemerintah Cina begitu menekan orang-orang Uighur muslim dan menganggap wajar untuk mempublikasikan pembatasan tersebut dengan anggapan (praktek memelihara jenggot) sebagai tindakan yang dicurigai,” papar Nicholas Bequelin, seorang peneliti Human Rights Watch.

Seytoff menghubungi HRW guna melaporkan tentang pembatasan itu beberapa hari lalu.

Xinjiang adalah wilayah otonomi sejak tahun 1955, namun terus mengalami berbagai operasi razia keamanan masif oleh pemerintah Cina.

Berbagai kelompok pembela HAM menuduh pihak berwajib Cina telah melakukan penindasan agama terhadap orang muslim Uighur yaitu kelompok etnis yang berbahasa Turki yang berjumlah delapan juta jiwa di Xinjiang dengan dalih menumpas terorisme. Xinjiang juga disebut Turkistan Timur.

“Masyarakat muslim menuduh pemerintah Beijing sengaja mengirimkan jutaan etnis Han untuk menetap di Xinjiang dengan tujuan akhir menumpas identitas dan budaya orang Uighur.”

Masyarakat muslim menuduh pemerintah Beijing sengaja mengirimkan jutaan etnis Han untuk menetap di Xinjiang dengan tujuan akhir menumpas identitas dan budaya orang Uighur.

Para analis menilai kebijakan mengirimkan etnis Han Cina ke Xinjiang adalah bagian dari upaya Beijing untuk meningkatkan proporsi etnis Han di wilayah itu, dari lima persen pada 1940-an menjadi lebih dari 40 persen sekarang.

Beijing menganggap wilayah Xinjiang yang luas sebagai aset berharga karena lokasinya yang strategis dekat Asia Tengah dan kandungan minyak dan gas alam yang besar.(onislam/meidia)

Leave a Comment