2. Naskah Karya Hamzah Fansuri — seorang ulama asal Barus, Sumatera Utara, yang juga penyair dan pujangga nusantara, dengan pengusul Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Salah satu hal yang paling terkenal darinya adalah syair berbahasa Melayu.
3. Arsip Pendirian ASEAN 1967 – 1976, dengan pengusul ANRI dengan Arsip Nasional Malaysia, Singapura, dan Thailand (joint nomination ANRI) mencakup dokumen-dokumen penting terkait pembentukan ASEAN.
Dokumen-dokumen ini, termasuk Deklarasi Bangkok — ditandatangani pada 8 Agustus 1967, yang menjadi dasar bagi berdirinya ASEAN sebagai organisasi regional. Arsip-arsip ini juga mencakup catatan-catatan lain yang merekam perjalanan ASEAN selama periode tersebut.
Arsip pendirian ASEAN berisi mengenai banyak pelajaran yang dapat diambil. Yaitu ASEAN tidak hanya mempersatukan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, tetapi juga memberikan jalan bagi negara-negara di Asia Tenggara untuk dapat lebih berperan secara aktif bagi perdamaian dan diplomasi kepada dunia.
4. Naskah Sang Hyang Siksa Kandang Karesian (SSKK), dengan pengusul Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (single nomination). SSKK ini adalah salah satu naskah Kuno berbahasa dan beraksara Sunda abad 15 masehi yang berhasil terselamatkan.
Naskah berangka tahun 1440 Saka, atau 1518 Masehi ini bersifat ensiklopedis. Isinya memberikan gambaran tentang pedoman moral umum, dan bekal praktis untuk kehidupan bermasyarakat di Sunda Pajajaran.
5. Surat-surat dan Arsip Kartini: Perjuangan Kesetaraan Gender, dengan pengusul ANRI dengan Arsip Nasional Belanda dan Leiden University Library (joint nomination ANRI).
Dokumen-dokumen dalam koleksi ini menjadi landasan integral dalam memahami kehidupan dan gagasan Raden Ajeng Kartini (1879-1904). Surat-surat Kartini yang menjadi sumber dan landasan pemikirannya, disimpan di lembaga-lembaga Belanda.
Surat-surat Kartini memberikan dampak terhadap pendidikan, emansipasi, dan perjuangan kesetaraan gender di Indonesia. Kartini telah menjadi kekuatan inspiratif dalam perdebatan di Indonesia dan internasional mengenai pendidikan, feminisme, dan kesetaraan gender.
Sebagian dari surat-surat ini diterbitkan tidak lama setelah kematiannya. Pertama dalam bahasa Belanda dan kemudian dalam banyak bahasa. Liputan global dan dukungan kuat dari orang-orang seperti Eleanor Roosevelt, menandai pengaruh internasional dari kata-kata Kartini selama bertahun-tahun.
