20.3 C
New York
20/07/2024
Aktual

Nasabah GBI Kembali Lapor Penipuan Senilai Rp1,2 Triliun

JAKARTA (Pos Sore) — Kisah penipuan investasi emas oleh PT Gold Bullion Indonesia (GBI) yang menimpa lebih dari seribu nasabah dan menyebabkan kerugian hingga Rp1,2 triliun belum terkuak hingga kini.

Setahun sudah Direktur Utama GBI Fadzli Bin Mohamed, dalang dari kasus penipuan emas itu tak diketahui keberadaannya. Alhasil nasabah yang kena tipu belum mendapatkan penggantian.

Fadzli yang merupakan warga negara Malaysia hilang secara misterius setelah kasus penipuan investasi emas besar-besaran itu mencuat sejak Maret tahun lalu.

Diungkap salah satu nasabah GBI, janji-janji Fadzli untuk bertanggungjawab melunasi seluruh utangnya pada nasabah ternyata hanya kebohongan belaka menyusul kehilangan dirinya.

“Fadzli yang merupakan warga negara Malaysia hilang secara misterius setelah kasus penipuan investasi emas besar-besaran itu mencuat sejak Maret tahun lalu.”

“Awal April 2013, kami menyetujui Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) GBI setelah si Direktur Utama Fadzli menunjukkan cek sebesar Rp 500 miliar untuk membayar utang pada para nasabah. Tapi ternyata itu cuma janji, tidak pernah terealisasi,” ungkap Taufik, salah satu nasabah Gold Bullion, Sabtu (3/5).

Namun begitu, cek yang semula dijanjikan akan diuangkan pada selambat-lambatnya Juli 2013 ternyata tak kunjung cair. Bahkan Fadzli menghilang dan tak bisa dihubungi sama sekali.

“Dirut Fadzli berbohong. Dia takut sama para nasabah yang terus menuntut soal utang dan kabur. Dia sudah keburu paranoid harus bayar utang,” jelas Taufik.

“Dirut Fadzli berbohong. Dia takut sama para nasabah yang terus menuntut soal utang dan kabur. Dia sudah keburu paranoid harus bayar utang.”

Dijelaskannya, dari seluruh petinggi perusahaan, para nasabah hanya bisa bebas berkomunikasi dengan Stock Manajer GBI Adi Priantomo Widodo yang merupakan kakak ipar Fadzli.

Maklum perusahaan tersebut masih diisi keluarga dekat Fadzli, termasuk sang istri yang menjabat sebagai komisaris GBI yang juga menghilang.

“Katanya, Adi hanya berhubungan lewat email dengan Fadzli untuk membahas kerugian nasabah Gold Bullion. Kalaupun Fadzli menghubungi Adi menggunakan telepon genggam, nomornya selalu diganti, cuma sekali pakai,” kata dia.

Taufik dan para nasabah lain juga merasa kecewa dan menyesalkan proses pencarian Fadzli yang terkesan lamban. Belum lagi, pihak kepolisian berkelit dengan mengatakan tidak mengetahui alamat tempat tinggal Fadzli.

“Sekarang sudah jelas ada dugaan penipuan, penggelapan, dan pencucian uang, tapi kok (Fadzli) tidak dipanggil-panggil. Belum disentuh sama sekali direkturnya,” tukas Taufik.

Menurut keterangan kepolisian yang diterima Taufik, tempat tinggal dan apartemen tempat Fadzli tinggal ternyata sudah tidak berpenghuni.

Untuk itu, pihak berwajib bahkan meminta para nasabah untuk mencari data tempat Fadzli bernaung dan melaporkannya.

“Sekarang si direktur dilepas karena tidak ada alamat. Masa menangkap maling harus menunggu ada alamatnya dulu. Cuma duduk manis sambil minum kopi mana bisa tertangkap,” pungkasnya.

Terakhir, para nasabah yang menjadi korban GBI kembali melaporkan kasusnya ke Polda Metro Jaya.

Beberapa waktu lalu, perwakilan GBI Adi Priantomo Widodo mengungkapkan pihaknya telah mulai membayarkan utang perusahaan sejak Oktober tahun lalu.

Dua nasabah yang telah mulai menerima ganti rugi yaitu Krismawan Hadiwinata senilai Rp106,25 juta pada 30 Oktober 2013 dan Irwan Hadiwinata senilai Rp150,62 juta pada 25 Oktober 2013.

Namun pernyataan tersebut ditepis Taufik yang mengaku telah mendatangi dua nasabah itu untuk mengkonfirmasi kebenaran penerimaan pembayaran utang tersebut.

“Kami sudah menelusuri itu (pembayaran pada dua nasabah GBI), ternyata itu bohong. Setelah diklarifikasi, ternyata yang satu memang sudah dibayar dan yang satu lagi mengaku belum dibayar sama sekali. Itu kan sudah bohong,” jelas Taufik.

Kasus penipuan investasi nasabah GBI telah bergulir sejak Maret tahun lalu. Setelah sempat melakukan sidang di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada awal April dan mengikuti sidang di Komisi XI pada Semtember tahun lalu, utang para nasabah tak juga dilunasi pihak GBI.

Padahal, GBI dan para nasabah sempat menempuh jalan damai di Pengadilan Niaga setelah perusahaan berjanji akan membayarkan utang-utangnya pada nasabah dengan menunjukkan salinan cek sebesar Rp 500 miliar di persidangan. Namun sayang, setelah jalan damai disepakati, GBI tak kunjung membayar utang-utangnya pada para nasabah hingga saat ini.

Leave a Comment