13/02/2026
AktualEkonomi

Menjaga Kayu, Menjaga Masa Depan: Renungan Sunyi Kepemimpinan Industri dari Kebun Raya Bogor

“Kepemimpinan bukan semata mengejar pertumbuhan produksi atau peningkatan devisa, tetapi keberanian untuk menetapkan batas yang sehat bagi alam dan generasi mendatang,” tuturnya. Menurut pendiri sekaligus CEO Global Kriya Nusantara – sebuah perusahaan yang berang di bidang kerajinan tangan (kriya), mebel, dan produk kreatif berbasis bidaya itu, pemimpin industri harus mampu menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan tanggung jawab ekologis dan sosial.

Dalam praktiknya, HIMKI terus mendorong transformasi industri menuju prinsip keberlanjutan, mulai dari penggunaan bahan baku legal dan tersertifikasi, penerapan efisiensi energi, hingga pengembangan desain ramah lingkungan. Upaya ini bukan sekadar mengikuti tren global, tetapi merupakan strategi jangka panjang untuk menjaga daya saing industri nasional.

Pasar internasional kini semakin selektif. Konsumen global tidak hanya menilai kualitas dan estetika produk, tetapi juga menelusuri jejak keberlanjutan di balik setiap furnitur dan kerajinan. Produk yang dihasilkan dari praktik ramah lingkungan memiliki nilai tambah yang semakin tinggi, sekaligus membuka peluang ekspor yang lebih luas.

Lebih dari itu, keberlanjutan juga berkaitan erat dengan kesejahteraan perajin. Industri mebel dan kerajinan Indonesia dikenal sebagai industri padat karya yang melibatkan jutaan tenaga kerja, mulai dari pengrajin skala rumah tangga hingga manufaktur besar. Pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan akan memastikan keberlangsungan mata pencaharian mereka dalam jangka panjang.

Abdul Sobur menekankan bahwa filosofi kepemimpinan berkelanjutan harus dimulai dari kesadaran kolektif seluruh pelaku industri. Pemerintah, asosiasi, pelaku usaha, hingga perajin perlu membangun sinergi untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Ia percaya, industri mebel dan kerajinan Indonesia memiliki potensi menjadi contoh global dalam pengembangan industri berbasis kearifan lokal. Kekayaan budaya, keterampilan tradisional, serta kedekatan masyarakat dengan alam menjadi keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara lain.

Refleksi di Kebun Raya Bogor menjadi pengingat bahwa keberlanjutan tidak selalu hadir dalam bentuk kebijakan besar atau jargon internasional. Terkadang, ia justru lahir dari kesadaran sederhana tentang pentingnya menjaga keseimbangan. Dari sebatang pohon yang tumbuh perlahan, dari air yang mengalir tanpa dipaksa, hingga dari tangan-tangan perajin yang bekerja dengan penuh kesabaran.

“Peradaban besar bukan yang paling rakus, melainkan yang paling mampu menjaga keseimbangan,” pungkas Abdul Sobur. Kalimat itu seolah menjadi pesan sunyi yang relevan bagi perjalanan industri mebel dan kerajinan Indonesia—bahwa menjaga alam berarti menjaga masa depan industri itu sendiri. (aryodewo)

Leave a Comment