POSSORE.ID, Bogor — Langkah terasa melambat ketika memasuki Kebun Raya Bogor. Di antara pohon-pohon tua yang berdiri anggun, suasana seperti mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk target produksi, persaingan pasar global, hingga tekanan ekonomi yang semakin kompleks.
Di ruang hijau inilah, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menemukan refleksi sederhana namun mendalam tentang kepemimpinan dan keberlanjutan—nilai yang semakin relevan bagi masa depan industri mebel dan kerajinan nasional.

Kebun Raya Bogor bukan sekadar taman botani. Kawasan ini menyimpan lapisan sejarah panjang yang berakar pada peradaban Pakuan Pajajaran. Pada masa itu, alam tidak dipandang sebagai objek eksploitasi, melainkan mitra kehidupan. Hutan dirawat sebagai penjaga keseimbangan, air dimuliakan sebagai sumber keberlangsungan, dan ruang hijau dipertahankan sebagai penyangga ekosistem sekaligus spiritualitas masyarakat.
Nilai-nilai tersebut, menurut Abdul Sobur, sesungguhnya memiliki relevansi kuat dengan perjalanan industri mebel dan kerajinan Indonesia saat ini. Industri yang sangat bergantung pada sumber daya alam—khususnya kayu, rotan, bambu, dan berbagai material alami lainnya—tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan lingkungan. Tanpa pengelolaan yang bijak, industri yang selama ini menjadi kebanggaan ekspor nasional justru berpotensi kehilangan fondasi utamanya.
Dalam beberapa dekade terakhir, industri mebel dan kerajinan Indonesia berkembang pesat, menembus pasar global dengan kekuatan desain, keterampilan perajin, serta kekayaan bahan baku tropis. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan besar, terutama terkait keberlanjutan sumber daya. Tekanan pasar internasional menuntut produksi cepat dan efisien, sementara kelestarian hutan dan ekosistem menjadi isu yang semakin krusial.
“Bencana bukan takdir, melainkan konsekuensi dari pilihan,” ujar Abdul Sobur, mengutip refleksi yang lahir dari pengamatannya terhadap dinamika hubungan manusia dan alam. Dalam konteks industri mebel dan kerajinan, pilihan itu terwujud dalam cara pelaku usaha mengelola bahan baku, memilih sistem produksi, hingga menentukan arah ekspansi bisnis.
Ia menilai, industri mebel Indonesia sejatinya memiliki modal kuat untuk menjadi pelopor praktik industri berkelanjutan. Tradisi kerajinan Nusantara sejak dahulu telah mengajarkan prinsip memanfaatkan alam secara bijaksana. Banyak perajin tradisional yang memanfaatkan limbah kayu menjadi produk bernilai tinggi, menggunakan bahan alami yang mudah terurai, serta menjaga keseimbangan antara produksi dan ketersediaan bahan baku.
Di Kebun Raya Bogor, filosofi tersebut terasa nyata. Pohon-pohon tua dibiarkan tumbuh sesuai siklus alaminya, air mengalir tanpa intervensi berlebihan, dan manusia hadir sebagai penjaga, bukan penguasa. Bagi Abdul Sobur, konsep ini mencerminkan model kepemimpinan industri yang perlu dikembangkan saat ini.
