
JAKARTA (Pos Sore) — Menjadi ibu yang dirindukan. Begitu judul Kajian Muslimah di Masjid Al-Ihsan Permata Depok, Sabtu (15/2/2020), dengan pihak penyelenggara Majelis Taklim Khairunnisa Nilam 3. Karena ini kajian muslimah maka yang memberikan pencerahan ya seorang perempuan. Kali ini menghadirkan ustadzah Ummi Heni Handayani.
Sebelum kajian dimulai, diawali dengan qasidah dan pembacaan puisi tentang ibu, lalu dilanjutkan dengan pembacaan alquran surat Al-isra’ ayat 23-25 yang berkisah tentang bagaimana memperlakukan orangtua.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Al-Isra:23)
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (Al-Isra’: 24)
“Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. (Al-Isra’ 17:25)
Apakah kita sudah menjadi seorang ibu yang dirindukan? Berhubung sebagian besar, bahkan hampir semua jamaah yang hadir sudah menjadi ibu, maka yang menjadi pertanyaan “sudahkah dirindukan?”
Yang perlu diingat, menjadi ibu itu takdir, menjadi istri itu pilihan. Sayangnya tidak semua ibu bisa memiliki anak. Istri-istri Nabi Muhammad Saw contohnya. Dari 11 istri nabi hanya dua istri saja yang melahirkan anak. Enam dari tujuh anak Rasulullah terlahir dari ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid Radhiallahu ‘anha dan Maria Al-qibthiyah Radhiallahu ‘anha.
“Jadi dari tujuh anak Rasulullah itu didapatkan dari dua bibit,” kata ustadzah. Setelah nabi wafat, istri-istri nabi haram dinikahi oleh siapapun. Dan oleh Allah Swt, para istri nabi ini diberi gelar ummatul mukminin. Ini adalah gelar tertinggi yang berarti ibunya kaum mukminin.
Karenanya yang namanya anak tidak melulu dari faktor biologis atau anak kandung, tetapi juga bisa dari faktor sebab lain seperti anak angkat, anak asuh, anak didik, anak tiri, anak tetangga, anak saudara. Jadi seorang perempuan bisa dikatakan juga seorang ibu dengan anak-anak di luar faktor biologis tadi. Ketika seorang ibu sudah meninggalkan jejak kasih sayang pada anak-anak tersebut pasti mereka akan mendoakan “ibunya”.
Bagaimana menjadi ibu yang dirindukan? Semua diawali dari saat janin masih dalam rahim. Rahim itu sendiri menjadi salah satu asma Allah yang berarti penyayang. Jadi janin dititipkan di rahim hanya sebagai sarana untuk memberikan kasih sayang pada anak. Saat dalam kandungan, anak didengarkan ayat-ayat alquran, ayah dan ibu sering menyapa dan mengajak ngobrol. Dengan interaksi yang sering seperti itu sang anak akan merasakan kehadiran orangtuanya.
Lalu ketika anak lahir, anak harus langsung dipeluk ibu dan disusui. Sementara ayah mengadzankan anak pada kedua telinganya. telinga kanan dilantunkan adzan, sedangkan telinga kiri dikumandangkan iqomah. Ini untuk membiasakan anak mendengar kalimat-kalimat Allah sedari bayi sehingga seiring tumbuh kembangnya anak jadi terbiasa.
Umumnya anak yang tidak terlahir sempurna karena ibu tidak menerima kehadiran sang anak. Ada yang mengistilahkan dengan “kebobolan”, tak sedikit yang mencoba menggugurkan meski akhirnya gagal. Dan ketika lahir ada anak yang dibuang atau dititipkan ke panti asuhan. Dalam kondisi seperti ini ibu tidak meninggalkan jejak kasih sayang yang tentu saja tidak akan pernah dirindukan.
Para ibu harus ingat usia 0-15 tahun adalah masa-masa anak tumbuh kembang yang harus dicurahi dengan kasih sayang dan kekayaan emosional yaitu kebahagian. Di rentang usia tersebut jangan pernah memarahi anak atau menyalahkan anak karena bisa jadi semua karena kesalahan kita sebagai ibu.
Mari bertanya pada diri sendiri kenapa anak kita begitu? Coba introspeksi diri mungkin kita yang secara tidak langsung mengajarkan anak-anak perbuatan yang tidak baik yang akhirnya diikuti oleh anak. Atau juga bisa jadi kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa kita di masa lalu. Dan ini harus segera kita disadari, menyadari kesalahan, menyadari kekeliruan sehingga ibu bisa memperbaiki keadaan.

“Kalau ada pemikiran “lebih mudah membuat anak menjadi buruk atau lebih mudah membuat anak menjadi baik” ibu-ibu jawabnya apa?” tanya sang ustadzah yang dijawab jamaah “lebih mudah membuat anak menjadi buruk”, yang ternyata jawaban atau pemikiran ini sangatlah keliru.
Pemikiran tersebut adalah fondasi pemikiran yang salah. Harus diingat apa yang kita pikirkan itu adalah doa. Padahal tidak ada yang salah dalam penciptaan anak. Semua anak terlahir fitrah, suci. “Jadi pemikiran itu harus diubah, lebih mudah membuat anak menjadi baik daripada membuat anak jadi buruk,” tegasnya.
Bagaimana anak bisa merindukan kita kalau di mata anak-anak kita tidak tahu apa-apa? itu karena kita biasa meremehkan mereka, kepeduliannya dimandulkan. Dibonsaikan. Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Kalimat yang diucapkan selalu dengan kata “jangan”, “tidak boleh” atau ancaman “awas ya kalau…” Kata-kata ini akan membuat anak menjadi tidak percaya diri, tidak kreatif, tidak punya keberanian, dan tidak mandiri.
“Ada kasus mahasiswa ITB yang bunuh diri karena menghadapi sejumlah masalah sejak ibunya meninggal. Ini bisa jadi anak tidak dibiasakan menyelesaikan masalahnya sendiri. Sedikit-sedikit dibantu. Jadi ketika si anak tidak punya sandaran hidup jiwanya jadi lemah. Kita sebagai ibu juga harus menyampaikan ke anak jika nanti kita suatu saat meninggal, untuk membuat jiwa dan mentalnya siap dan kuat,” tuturnya.
Jadikan kematian sebagai “bahan ajar kehidupan” pada anak, sebagaimana kisah Nabi Ya’qub dan Luqman. Nabi Ya’qub adalah seorang ayah yang patut dijadikan teladan, yang mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang baik, memberikan nasihat kepada mereka dan menyelesaikan masalah mereka.
Ketika Nabi Ya’qub ‘alaihissalam sakit, ia kumpulkan anak-anaknya dan berpesan kepada mereka agar tetap beribadah kepada Allah Subhaanahu Wa ta’ala, demikian juga tetap beriman dan beramal saleh.
“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Mahaesa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (Al Baqarah: 133)

Sementara Luqman adalah seorang pria yang namanya diabadikan Allah dalam al-qur’an. Tepatnya dalam surat ke 31, surat Luqman. Dalam surat tersebut, tepatnya pada ayat 12 sampai 19, terdapat beberapa nasihat Luqman kepada anaknya. Dan nasihat tersebut, adalah nasihat-nasihat indah yang harusnya kita sebagai umat Islam, perlu meneladaninya.
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai, anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) merupakan suatu kedzaliman yang besar.” (31:13)
“Dan kami perintahkan kepada umat manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu.” (31:14)
“(Luqman berkata): Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (31:16)
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (31:17)
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (31:19)
Sayangnya, banyak juga anak yang tidak mendapatkan sentuhan dari orangtuanya sehingga membuat anak menjadi “lapar sentuhan” atau “haus kasih sayang”. Ini yang membuat tidak ada keterikatan batin dan hati antara anak dan orangtua. “Sentuhan itu harus dijaga dan dirawat,” tandasnya.
Jika saat bayi kita sering memberikan sentuhan, maka saat beranjak besar kita juga perlu melakukannya. Misalnya pijit-pijit ketika anak minta dipijit. Ketika anak kecil kita ajak bermain, maka ketika beranjak besar pun kita ikut terlibat dalam permainannya. Jangan mau kalah dengan HP. Teknologi tidak bisa dihindari, maka yang ada kita perlu bersahabat dengan HP. Bagaimana caranya kita bisa mengalihkan perhatian anak dari HP. Cari kegiatan yang melibatkan semua anggota keluarga.
Lalu bagaimana memperbaiki keadaan agar bisa menjadi ibu yang dirindukan? Selama hayat masih dikandung badan selama itu pula peluang memperbaiki masih ada. Jangan putus asa dan mudah menyerah. Ustadazah pun memberikan langkah-langkah memperbaiki diri.
Pertama, memperbaiki hubungan kita dengan allah. Persoalan yang terjadi di rumah biasanya justeru karena akibat dosa-dosa kita sendiri. Kedua, menyadari dan bertaubat. Yaitu dengan tidak mengulangi kembali kesalahan-kesalahan yang telah kita buat sehingga memungkinkan tercipta cinta segitiga antara Allah, kita, dan anak. Selalulah minta pertolongan kepada Allah.
“Ketiga, mengakui kesalahan kita pada anak. Jangan malu mengakui bahwa memang kita salah meski itu di hadapan anak kita. Kelima, meminta maaf pada anak, bukan hanya menuntut anak untuk meminta maaf pada kita sehingga tercipta “dialog dari titik nol”, menempatkan ada posisi yang sejajar dengan kita,” urainya. (tety)
