“Juga terlibat dalam garis pengabdian untuk anak dan perempuan Indonesia di berbagai sektor, baik pendidikan, kesehatan, politik, lingkungan dan sebagainya,” ujar Giwo.
Kesuksesan dan keberhasilan Kowani tersebut, diakui Giwo, tidak lepas dari kepemimpinan para pendahulu. Mulai dari Lasiyah Soetanto, A. Sulasikin Moerpratomo, Mien sugandi, Enny Busiri Suryowinoto, Inne Soekaryo, Linda Agum Gumelar, dan Dewi Motik Pramono.
“Terimakasih telah banyak mengukir sejarah panjang Kongres Wanita Indonesia hingga sebesar ini,” lanjut Giwo.
Giwo juga menyampaikan terima kasih kepada organisasi-organisasi yang telah menjadi pendiri Kowani, yaitu Aisyiyah, Taman Siswa, dan Wanita Katolik RI.
Mereka adalah tonggak sejarah yang telah meletakkan dasar bagi berdirinya Kowani dan telah memberikan kontribusi luar biasa dalam perjalanan panjang ini.
“Hingga saat ini, Aisyiyah, Taman Siswa, dan Wanita Katolik RI tetap setia bergabung dan aktif berkontribusi dalam Kowani. Keberlanjutan keanggotaan dan komitmen mereka adalah bukti nyata dari dedikasi untuk kemajuan kaum perempuan,” tegas Giwo.
Giwo berharap Kongres ke-26 tidak hanya menghasilkan rekomendasi yang strategis, tetapi juga dapat menghasilkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang lebih sesuai dengan kebutuhan saat ini dan ke depan.
Tidak kalah pentingnya adalah memilih siapa yang akan menjadi nahkoda kapal besar ini, yang menjadi Ketua Umum Kowani yang baru.
Hadir dalam kesempatan ini jajaran pengurus DPP Kowani, Dewi Motik, Linda Agum Gumelar, Ketua Panitia Kongres ke-26 Eryana dan sejumlah tokoh perempuan lainnya
