31/01/2026
AktualKesra

Melihat Lebih Dekat Kiprah Iptek Nuklir BATAN di Bidang Kesehatan

(Proses pembuatan Tc-99m oleh peneliti Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka BATAN Foto: Humas Batan)

.

Samarium-153 EDTMP (etilen diamin tetra metil fosfonat) hasil inovasi Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan)

Ini adalah obat Samarium-153 EDTMP (etilen diamin tetra metil fosfonat) hasil inovasi Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Obat ini untuk terapi paliatif kanker bagi pasien atau penyintas kanker.

Hebatnya, inovasi tersebut masuk ke dalam Top 45 Inovasi Layanan Publik dalam kompetisi inovasi pelayanan publik (KIPP) yang diselenggarakan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB) pada Juli lalu. Batan sendiri lembaga yang berada di bawah koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi.

Selasa (20/10/2020), atas undangan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Mapiptek), mengajak media untuk mengunjungi PTRR Batan, yang berlokasi di Kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan (Puspiptek) Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

Ada sekitar 10 media yang berkesempatan diajak untuk mengetahui lebih dekat hasil-hasil inovasi PTRR Batan, khususnya terkait pengobatan kanker. Karena masih Covid-19, jumlah pengunjung pun dibatasi.

Sebelum mengunjungi PTRR, Kepala Batan Prof. Dr. Ir. Anhar Riza Antariksawan, Kepala Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka, Dr. Rohadi Awaludin, serta Kepala Bagian Humas Purnomo, menyambut rombongan media.

Dalam kesempatan itu, Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan menjelaskan, sesungguhnya teknologi nuklir telah lama dimanfaatkan di berbagai sektor kehidupan, salah satunya kesehatan. Pemanfaatan radioisotop di bidang kesehatan telah banyak dirasakan oleh masyarakat, khususnya bagi pasien dan penyintas kanker.

Namun, sayangnya, Radioisotop dan Radiofarmaka di Indonesia saat ini masih didominasi oleh produk impor, padahal Indonesia memiliki kemampuan untuk memproduksi sendiri.

Terlebih Reaktor Serbaguna yang kita miliki kapasitasnya lebih besar daripada reaktor yang ada di Australia, tapi Australia menjadi salah satu negara produsen radioisotop terbesar di dunia. Mengapa kita tidak seperti Australia?

“Inilah yang sedang Batan upayakan, yaitu agar angka impor yang tinggi bisa kita turunkan,” katanya.

Mengapa Batan begitu konsern pada penanganan penyakit kanker karena prevalansi kanker di Indonesia meningkat cukup tinggi.

Berdasarkan Survei Kesehatan Kementerian Kesehatan pada 2013 – 2018 penderita kanker cukup tinggi. Jika pada 2013 ada 1,4 per 1000 penduduk menjadi 1,8 per 1000 penduduk pada 2018 atau naik sekitar 30 persen. Mayoritas penderita kanker di Indonesia terdeteksi sudah pada stadium lanjut.

Kepala Batan Prof. Dr. Ir. Anhar Riza Antariksawan (tengah) saat memberikan keterangan atas capaian iptek nuklir Batan di bidang kesehatan, didampingi Kepala Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka, Dr. Rohadi Awaludin (kiri), serta Kepala Bagian Humas Purnomo (kanan)

“Pada tahun ini dan tahun-tahun berikutnya diperkirakan jumlahnya meningkat seiring dengan meningkatnya gaya hidup tidak sehat dan tidak banyak bergerak,” terang Rohadi.

Itu sebabnya, peran radioisotop dan radiofarmaka sangat diharapkan untuk menjadi solusi dalam penyelesaian masalah kanker.

Salah satu keuntungan dari radioisotop yaitu sebagai radiotracer atau perunut dalam menemukan lokasi yang terjangkiti oleh penyakit kanker. Radioisotop juga dapat digunakan untuk pengembangan pembuatan obat.

“Radionuklida atau biasa disebut juga radioisotop adalah isotop yang memancarkan radiasi untuk mencapai kestabilannya. Radiasi tersebut yang menjadikan masing-masing radioisotop memiliki karakteristik yang khas, sehingga dapat digunakan sebagai radioaktif perunut atau radiotracer,” jelas Kepala Batan.

Secara global, pemanfaatan Radiofarmaka di dunia mayoritas memang digunakan untuk onkologi (penyakit kanker), yang mencapai lebih dari 50%, disusul cardiology (penyakit jantung), baru pemanfaatan lainnya seperti thyroid, dan lain sebagainya.

Terkait inovasi Samariun, dijelaskan Rohadi, penggunaannya diklaim lebih efektif dibanding dengan morfin. Pengobatan dengan morfin, pasien masih merasakan sakit sehingga tidak bisa beraktifitas. Selain itu, juga berdampak mengganggu kesadaran dan memberikan efek ketagihan.

Berbeda dengan Samariun rasa sakit itu tidak akan dirasakan. Pasien dalam stadium lanjut pun masih bisa beraktifitas tanpa harus merasakan sakit yang berlebihan dan tanpa rasa kantuk yang begitu berat sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Terlebih berdasarkan data WHO, penderita kanker pada stadium lanjut sebanyak 66% atau 2/3 mengalami nyeri akibat kanker yang telah metastasis ke tulang. Karenanya, diperlukan pereda nyeri untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Dan, itu artinya, obat Samariun dapat menggantikan morfin. Selain itu, lebih efektif dan memberikan nilai ekonomi yang lebih besar kepada pasien. Di kedokteran nuklir biaya paket radiasi saat ini jauh lebih murah jika dibandingkan dengan paket kemoterapi.

“Terutama untuk pasien kanker payudara. Penggunaan Samarium-153 untuk pasien kanker memberikan manfaat yang besar, walaupun masih harus diobati namun dapat meningkatkan kualitas hidup pasien, “ tambah Kepala Batan.

Kepala Batan Prof. Dr. Ir. Anhar Riza Antariksawan

Usai memberikan pemaparan selama 1 jam lebih itu, media pun mengunjungi PTRR dan diterima oleh Arif Iman Nugroho, Kasubag Persuratan, Kepegawaian dan Dokumentasi Ilmiah.

Di sini, media mendapatkan penjelasan jika Samariun sudah banyak dimanfaatkan oleh berbagai rumah sakit. Di antara RSCM Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Karyadi Semarang, Siloam MRCC Jakarta, RS Harapan Kita Jakarta, RS Kanker Dharmais Jakarta, RSAD Gatot Subroto, dan banyak lagi.

“Obat Samariun ini lebih efektif dibanding morfin yang harus digunakan setiap hari, sementara Samariun sekali dalam sebulan, bahkan bisa dipakai dalam rentang waktu 3 bulan sekali. Bisa dibandingkan keunggulannya,” terangnya.

Karena obat ini mengandung radiasi, maka harus dikemas dalam wadah khusus. Botol obat dimasukkan ke dalam kontainer yang beratnya bisa berkilo-kilo. Untuk 1 botol ukuran kecil ini pembungkus kemasannya bisa mencapai lebih dari 3 kg. Ketika possore.com mencoba mengangkatnya ternyata berat juga.

Kontainer ini pun harus kuat dan tahan dalam segala benturan. Jadi, jika dalam perjalanannya kendaraan mengalami kecelakaan, misalnya, obat-obat ini masih dalam keadaan aman dan tidak pecah yang dapat membahayakan orang-orang di sekitarnya. Pengirimannya pun harus dalam pengawalan ketat.

Batan sendiri bukan yang memproduksi secara massal, melainkan sebagai pihak yang melakukan penelitian. Pihak yang memproduksi secara massal adalah industri farmasi, dalam hal ini PT. Kimia Farma.

Ketika ditanya satu botol kecil itu bisa untuk berapa kali pemakaian, ia tidak bisa menjelaskan. Segala keputusan pengobatan sepenuhnya wewenang dokter dan rumah sakit karena setiap pasien bisa jadi berbeda-beda dosisnya.

Lalu media pun diajak mengelilingi lab dan memasuki ruang hot cell. Di ruang inilah obat yang semula tidak ada radiasinya diberikan radioisotop. Sebelumnya, botol-botol yang berisi cairan obat ini dimasukkan ke dalam tabung khusus, baru diproses untuk diberikan radiasi melalui mesin khusus.

Sejatinya, bukan hanya ini saja hasil inovatif Batan di bidang kesehatan. Batan juga berhasil menemukan inovasi dalam hal pengobatan dan alat mendeteksi untuk penyakit lainnya. Yang jumlahnya sangat banyak.

Pekerja radiasi sedang melakukan proses produksi radioisotop dan radiofarmaka di fasilitas Hotcell. (foto: Humas Batan)

Prioritas Nasional
Batan sendiri sebagai lembaga penelitian yang mempunyai tugas melakukan penelitian, pengembangan, dan pendayagunaan iptek nuklir mendapatkan penugasan dari pemerintah menjadi koordinator untuk 3 prioritas nasional (PRN) selama 2020 – 2024.

Salah satu dari ketiga PRN tersebut adalah pengembangan produksi radioisotop dan radiofarmaka yang bekerja sama dengan PT Kimia Farma, LIPI, BPPT, Badan POM, Bapeten dan Universitas Padjadjaran.

Kegiatan tersebut untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar negeri yang selama ini hampir 90 persen berasal dari impor. Melalui kegiatan PRN ini, Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR), mengembangkan produksi radioisotop dan radiofarmaka untuk penanganan penyakit kanker baik untuk diagnosis maupun terapi yang banyak dibutuhkan di dalam negeri.

Terdapat 5 produk radioisotop dan radiofarmaka yang akan ditargetkan selama kurun waktu 2020 – 2024 yakni.

Pertama, Generator Mo-99/Tc-99m menggunakan Mo-99 non fisi. Saat ini radioisotop Tc-99m banyak digunakan untuk diagnosis kanker. Radioisotop Tc-99m ini dapat digunakan pula untuk diagnosis jantung dan ginjal.

Kedua, Radiofarmaka berbasis PSMA (prostate specific membrane antigen). Radiofarmaka ini digunakan untuk diagnosis dan terapi kanker prostat. Lu-177-PSMA digunakan untuk terapi, namun hasil pencitraan sebaran radiofarmaka tersebut di dalam tubuh dapat digunakan pula untuk mengetahui status terakhir sebaran kanker yang ada di dalam tubuh.

Ketiga, Kit radiofarmaka Nanokoloid HAS, digunakan untuk diagnosis sebaran kanker ke kelenjar limfa (limfoscintigrafi), khususnya sebaran dari kanker payudara.

Keempat, Kit radiofarmaka EDTMP merupakan generasi baru radiofarmaka untuk terapi paliatif kanker tulang. Ini dapat digunakan untuk daerah daerah yang jauh dari lokasi produksi.

Kelima, Contrast agent berbasis gadolinium untuk MRI contrast agent. Radioisotop/tradiotracer digunakan pada saat pengembangan, produk akhir tidak mengandung radioisotop.

“Dari kelima produk tersebut, terdapat 3 produk yang sangat ditunggu oleh pengguna yakni Generator Mo-99/Tc-99m, Radiofarmaka berbasis PSMA, dan Kit radiofarmaka Nanokoloid HAS,” terang Kepala Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka, Dr. Rohadi Awaludin.

Kit MDP (methylene diphosphonate) hasil inovasi PTRR Batan yang berguna untuk diagnosa kelainan pada tulang, mengetahui anak sebar tumor pada tulang, tumor tulang primer, infeksi pada tulang dan penyakit metabolik tulang. (foto: Humas Batan)

Dikatakan, produk Generator Mo-99/Tc-99m dan Kit radiofarmaka nano HAS diharapkan dapat mensubstitusi impor luar negeri. Sedangkan produk Radiofarmaka berbasis PSMA saat ini mulai banyak digunakan di luar negeri dan mempunyai potensi penggunaan yang sangat tinggi di dalam negeri.

Adapun tahapan kegiatan PRN dalam menghasilkan radioisotop dan radiofarmaka di antaranya sintesis dan preparasi, peningkatan kapasitas produksi, uji praklinis jika diperlukan, dan uji klinis.

Namun, tidak semua produk memerlukan uji pra klinis karena merupakan hasil dari inovasi proses. Produk hasil inovasi proses merupakan substitusi produk impor yang telah ada selama ini sehingga tidak memerlukan uji pra klinis secara lengkap. Yang diperlukan adalah uji kesetaraan dengan produk yang telah digunakan selama ini.

Status capaian kegiatan pengembangan produksi radioisotop dan radiofarmaka di tahun 2020 ini secara umum adalah tahap sintesis dan preparasi. Sintesis dan preparasi radioisotop dan radiofarmaka dalam skala kecil telah berhasil dibuat di laboratorium.

Tahun 2021 diharapkan skala pembuatan dapat ditingkatkan (peningkatan kapasitas) sampai skala dapat digunakan. Selanjutnya dilakukan serangkaian pengujian untuk memastikan dapat digunakan untuk pasien.

Generator Mo-99/Tc-99m pada 2020 telah berhasil dibuat dalam skala laboratorium. Akhir tahun ini generator secara utuh dapat diselesaikan. Tahun 2021 mulai dilakukan serangkaian pengujian untuk memastikan bahwa generator tersebut aman diangkut dan digunakan di rumah sakit.

Lu-177-PSMA tahun 2020 juga telah berhasil disintesis dalam skala kecil (puluhan mCi). Kemurnian radiokimia telah memenuhi persyaratan yaitu lebih dari 95%. Namun masih perlu dipastikan dari sisi stabilitasnya dalam berbagai media dan berbagai suhu.

Sedangkan Nanokoloid HSA pada 2020 telah berhasil dilakukan sintensis dan preparasi. Hasil sintesis dan preparasi non steril skala kecil telah berhasil diperoleh sesuai dengan persyaratan yaitu kurang dari 100 nm dan kemurnian radiokimia hasil penandaan dengan Tc-99m lebih dari 90%.

Di usianya yang semakin menua, yang pada 5 Desember 2020 berusia 62 tahun, Batan semakin mengukuhkan dirinya sebagai lembaga penelitian yang dapat diperhitungkan, yang kiprahnya tidak saja diakui di dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri.

Tidak terhitung sudah berapa banyak negara yang mengunjungi Batan untuk sekedar mengenal lebih dekat hasil capaian-capaian inovasi Batan. Tidak terhitung pula berapa banyak kerjasama yang dilakukan pihak luar negeri dengan Batan. Tidak terhitung juga berapa banyak masyarakat dan pelajar yang bertandang ke lembaga yang lahir pada 5 Desember 1958 itu.

Jayalah selalu Batan untuk terus berkiprah dalam pembangunan berkelanjutan bangsa ini melalui iptek nuklir yang dimiliki. Buktikan pada dunia, jika Indonesia hebat!

Leave a Comment