11.2 C
New York
14/04/2024
Gaya Hidup

Lewat Secangkir Teh, Obrolan pun Mengalir Semakin Dalam

Seberapa sering Anda menghabiskan waktu mengobrol dengan anggota keluarga? Tanpa disadari, meski tinggal di bawah satu atap, komunikasi yang dilakukan seringkali bersifat semu dan bukan obrolan yang mendalam.

Orangtua dan anak yang tinggal serumah namun jarang berkomunikasi akan membuat hubung kurang dekat secara psikologis. Malah bisa berdampak yang lebih negatif terhadap tumbuh kembang anak, jika dibandingkan dengan keluarga yang tinggal terpisah namun lebih sering berkomunikasi dan memiliki kedekatan psikologis yang baik.

“Melihat fenomena yang belakangan terjadi dalam keluarga Indonesia di kota-kota besar ini, kami mengajak keluarga Indonesia memanfaatkan kesempatan berkumpul yang dimiliki oleh keluarga yang tinggal serumah dengan menjalankan obrolan mendalam minimal 15 menit sehari melalui ekspresi jujur atau ungkapan perasaan untuk membangun kebersamaan yang berkualitas dalam mewujudkan keharmonisan keluarga, sambil menikmati kehangatan teh,” kata Mario Abdisa selaku Senior Brand Manager SariWangi.

Untuk memulai obrolan, ibu memiliki peran yang amat penting dalam menciptakan kebersamaan yang berkualitas dalam keluarga. Hal ini juga akan memengaruhi tumbuh kembang anak. Para Ibu harus berperan aktif untuk menciptakan suasana komunikasi yang hangat sekaligus menyenangkan kepada suami dan anak dalam segala situasi demi mewujudkan keluarga yang harmonis dan menghadirkan kebahagiaan pada anak-anak.

“Maka dari itu, kesempatan yang dimiliki oleh keluarga yang dekat secara fisik semestinya dimanfaatkan semaksimal mungkin,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Gumelar.

Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si, Psikolog Anak dan Keluarga, memaparkan, keluarga dekat secara fisik sesungguhnya memiliki kesempatan untuk memulai obrolan mendalam minimal 15 menit sehari dan melihat langsung perkembangan anak, keistimewaan yang patut disyukuri. Hal yang tidak didapat oleh keluarga yang terpisah jarak jauh secara fisik.

“Orangtua terpisah jarak dari anak tentunya memiliki keterbatasan keterlibatan dalam pengasuhan anak. Namun, pengaruh negatif terhadap perkembangan anak dapat dihindari jika keluarga, baik yang dekat atau jauh secara fisik dapat menerapkan komunikasi yang efektif sejak dini,” paparnya.

Dampak negatif dari komunikasi yang kurang efektif dalam keluarga terkadang tak terlihat sebab bergulir dari hari ke hari tanpa disadari. Bila dibiarkan lebih lanjut, anak akan merasa diabaikan dan dalam kehidupan sosial akan tumbuh menjadi pribadi yang cenderung individualis atau kurang peka terhadap lingkungan sekitarnya. Ini pun bisa berdampak terhadap prestasi akademis sang anak.

Penyanyi Widi Mulia yang bersuamikan bintang layar lebar, Dwi Sasono juga mengungkapkan pengalaman membangun komunikasi keluarga setelah memiliki anak. Waktu padat pasangan artis ini tak jarang obrolan dari hati ke hati dengan kedua buah hati mereka Dru dan Widuri, menjadi terbatas.

“Pernah Dru mendapat nilai kurang di sekolahnya yang ternyata karena Dru merasa tidak mendapat perhatian ibunya,” ungkapnya.

Segera setelah menyadari hal tersebut, Widi menerapkan komunikasi efektif melalui kebersamaan dengan anak-anak setiap harinya, sambil memberi pemahaman agar mereka merasa tidak diacuhkan. Demikian juga dalam membina keharmonisan, Widi dan Dwi sesekali saling memberikan kejutan indah, antara lain berkomunikasi melalui surat dengan pesan-pesan lucu yang romantis. (tety)

Leave a Comment