02/02/2026
AktualOpini

Kerja Keras Ganjar Singkirkan Puan Maharani dan Budi Gunawan

Oleh Tony Rosyid

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Terjadi persaingan ketat di PDIP, siapa yang akan maju di pilpres 2024. Mega akan maju jika elektabilitasnya memungkinkan. Jika berat, setidaknya ada Puan Maharani dan Budi Gunawan.

Karir Puan baik di PDIP maupun di pemerintahan cukup bagus. Di PDIP, Puan pernah menjadi wakil ketua. Di pemerintahan, Panitia telah menko PMK sebelum dilantik menjadi ketua DPR.

Pengalaman politik Puan Maharani Berbicara lebih dari cukup jika didapok menjadi capres 2024. Dan sepertinya, Puan memang dipersiapkan oleh Megawati untuk menjadi capres 2024. Minimal cawapres.

Sayangnya, elektabilitas Puan mandek. Jauh tertinggal dari Ganjar Pranowo, periode gubernur Jawa Tengah dua. Mungkin karena Puan belum terlalu serius menggarap branding dirinya untuk nyapres.

…. Trah Soekarno mungkin memang ditakdirkan sementara untuk urus partai. Sedangkan capres menjadi ladang untuk kader yang lain.

 

Di sisi lain, di posisi Ganjar sebagai gubernur, truk menjadi serius digarap menjadi panggung untuk meningkatkan popularitas lelaki dari Purworejo ini. Menjadi drama, kata Pigai. Tim media dan medsos Ganjar bekerja efektif.

Selfie di tempat karantina pasien, sidak ke bandara, berpenampilan informal dengan pasang senyumnya yang khas, adalah pengaturan pencitraan yang sukses digarap oleh tim Ganjar untuk meningkatkan popularitasnya. Dan ini bagian dari kerja keras yang harus dilakukan Ganjar jika ingin Puan Maharani, juga Budi Gunawan.

Agak mirip dengan Jokowi. Ketika popularitas Jokowi tinggi, maka terjadi gelombang dukungan dari kader PDIP untuk capreskan mantan walikota Solo ini. Megawati terdesak, dan akhirnya tersingkir. 2014, Megawati pun mengacu pada Jokowi untuk menjadi capres.

Apakah Puan Maharani akan tersingkir juga oleh Ganjar? Tak menutup kemungkinan. Jika Puan tak serius persiapkan tim untuk branding dirinya, maka kemungkinan besar juga akan tersingkir. Seperti ibunya. Apalagi lihat kerja serius Ganjar yang sangat sistematis. Apabila ini terjadi, maka trah Soekarno mungkin memang ditakdirkan sementara untuk urus partai. Sedangkan capres menjadi ladang untuk kader yang lain.

Pebruari lalu, Indobarometer merilis elektabilitas Ganjar 11,8 persen. Ganjar mengungguli Puan Maharani yang di angka tak lebih dari 1 persen. Sementara survei Median, Ganjar 9,6 persen dan Puan tetap di angka 1 persen.

Survei terbaru di bulan oktober, Indikator merilis elektabilitas Ganjar naik lagi jadi 18,7 persen. Tertinggi untuk saat ini. Jika dibandingkan Puan, tentu sangat jauh.

Ganjar dengan kerja keras, sistematis dan sistematisnya, berhasil membonsai elektabilitas Puan Maharani. Ganjar lebih pandai memanfaatkan panggungnya sebagai gubernur Jawa Tengah dibanding Puan Maharani di DPR. Juga Budi Gunawan di BIN.

Elektabilitas Ganjar yang cukup tinggi dan terus naik bisa mengimplementasikan belum ada kepala daerah atau tokoh lain yang serius melakukan branding dan kerja-kerja politik untuk persiapan 2024. Ganjar saat ini, dengan keseriusan dan kehebatan cara, sedang main sendiri tanpa lawan.

Pertanyaannya: kenapa Ganjar aktor curi star? Melakukan branding dari sekarang? Bukankah pilpres 2024 masih jauh? Empat tahun lagi.

Jawabannya, karena Ganjar harus menjebol dua tembok besar. Tembok pertama bernama PDIP. Untuk dapat tiket PDIP, Ganjar harus bekerja keras dan memastikan elektabilitasnya jauh di atas calon yang lain. Khususnya Puan Maharani dan Budi Gunawan yang saat ini menjadi calon potensial dari PDIP.

Tembok kedua bernama e-KTP. Ganjar harus berhasil mengalahkan masalah e-KTP yang sempat dikait-kaitkan dengan nama dirinya. Dengan elektabilitas yang tinggi, isu e-KTP duharapkan tidak akan diabaikan.

Ini alasan masuk jika Ganjar untuk saat ini berusaha melawan dua tembok besar itu. Mumpung belum ada lawan. Sebagai pemain tunggal, tim Ganjar bisa terus menaikkan elektabilitasnya. Apalagi kalau mau bermain mata dengan lembaga survei, ini akan lebih mendongkrak elektabilitas. Toh masyarakat gak bisa klasifikasi jika operasi hasil survei. Kecuali ada hasil survei yang lain.

Sebab, dalam sejumlah survei, selain angka ilmiah, kerapkali ada angka konspirasi. Bergantung siapa yang memesan. Tetap saja, semuanya dikembalikan kepada persepsi publik.

Tapi segala dinamika di lembaga-lembaga survei itu, kerja keras dan keseriusan tim Ganjar, popularitas dan elektabilitas Puan Maharani, juga Budi Gunawan, cukup berhasil. Ini obyektif, mengingat angkanya stabil di sejumlah lembaga survei. Tanpa Singkirkan Puan dan Budi Gunawan, Ganjar tak akan punya ruang untuk dicapreskan oleh PDIP. Karena itu, harus kerja keras.

Jakarta, 26 Oktober 2020

Leave a Comment