Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dalam acara salah satu podcast.//Foto: Layar Forum Keadailan TV
POSSORE.ID, Jakarta – Begini suara dari Istana Kepresidenan RI terkait adanya teror yang dialamatkan kepada mahasiswa, tepatnya kepada Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Uuniversitas Gajah Mada (SEM UGM) Tiyo Ardianto.
Menteri Sekertaris Negara, Prasetyo Hadi, di Senayan, Rabu (18/2-26) menyatakan bahwa pemerintah tidak mengetahui siapa pihak yang melakukan teror. Ia menegaskan bahwa kebebasan berpendapat dijamin dalam sistem demokrasi.
Pernyataan wajar dan sudah seharusnya disampaikan salah satu menteri yang paling dekat dengan Presiden Prabowo. Apalagi menyangkut norma demokrasi, yaitu kebebasan berpendapat yang mendapat dijamin.
Namun ketika ditanya mengenai perhatian Istana terhadap dugaan ancaman, termasuk pesan intimidatif seperti ancaman akan diculik dan dugaan penguntitan, Prasetyo menyatakan persoalan teror sebagai hal yang berbeda dan menyebut akan melakukan pengecekan lebih lanjut.
Seperti diberitakan media ini beberapa hari lalu, Ketua BEM UGM,Tiyo Ardianto, melancarkan kritik kepada pemerintah terkait kasus bunuh diri seorang siswa SD di Ngada NTT.
Namun kritik yang menyasar langsung ke program andalan Presiden Prabowo Subianto ini (MBG-red) ternyata langsung mendapat reaksi. Bahkan ancaman. Tiyo mengaku menerima teror berupa pesan teks dan telepon dari pihak tidak dikenal usai ia menyampaikan kritik.
Ancaman yang tidak diketahui dari pihak mana ini pun, langsung memancing reaksi dari politisi PKB di Senayan, Hilman Mufidi. Anggota Komisi X DPR ini mengecam keras tindakan teror terhadap Ketua BEM UGM tersebut.
“Tindakan teror kepada adinda Tiyo, ketua BEM UGM tentu sangat tidak sepatutnya dilakukan. Saya sangat menyayangkan aksi itu, itu sama saja dengan praktik pembungkaman,” kata Hilman (POSSORE, ID,15/2-26).
Terkait kritik yang dilancarkan Ketua BEM UGM, Prasetyo sendiri ia mengingatkan agar kritik tetap disampaikan secara bertanggung jawab dan beretika.
“Kita mengimbau kepada semuanya untuk menyampaikan segala sesuatu itu dengan tanggung jawab juga, dan juga mengedepankan etika. Menyampaikan pendapat nggak ada masalah, tapi caranya itu juga perlu jadi pelajaran bagi kita semuanya,” katanya.
Prasetyo menyebut, menyampaikan pendapatnya enggak ada masalah. Tapi caranya kan juga perlu menjadi pelajaran bagi kita semua, gitu. Misalnya, hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik, tidak hanya untuk adik Ketua BEM UGM.
Prasetyo juga menekankan bahwa imbauan tersebut berlaku bagi siapa pun, tidak terbatas pada Ketua BEM UGM. Ia menyebut penggunaan bahasa yang santun dan bijak penting agar kritik dapat menjadi masukan konstruktif.
Saat kembali ditanya mengenai perhatian Istana terhadap dugaan ancaman, termasuk pesan intimidatif dan dugaan penguntitan, ia menyatakan persoalan teror sebagai hal yang berbeda dan menyebut akan melakukan pengecekan lebih lanjut.(lia)
