PALEMBANG (Pos Sore) — Berdasarkan catatan ADB pada 2012, sebanyak 35 negara dari 52 negara terjebak dalam status penghasilan menengah. PDB per kapita Indonesia USD 2.000- USD 12.000. Keterlambatan ini karena produktivitas, ekonomi, investasi rendah, dan inovasi tidak berkembang pada negara-negara itu, termasuk Indonesia.
“Penyebab utama middle income trap ini, antara lain karena perlambatan pertumbuhan ekonomi, sebagai akibat dari perlambatan produktivitas,” kata
Agus Puji Prasetyono, Deputi Menteri Riset dan Teknologi bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek, mewakili Menteri Ristek, Gusti Muhammad Hatta, pada Puncak Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-19 Tingkat Provinsi Sumatera Selatan, di Palembang, Senin (15/9).
Selain itu, juga karena rasio investasi yang rendah, pertumbuhan manufaktur lamban, diversifikasi industri terbatas, kondisi pasar tenaga kerja buruk, atau secara umum dapat dikatakan inovasi tidak berkembang pada negara tersebut. Untuk mengatasinya, diperlukan peningkatan inovasi hasil litbang. Dengan begitu, tercapai peningkatan produktivitas tenaga kerja dan peningkatan total Faktor Produktivitas (TFP). Faktor yang menjadi sumber pertumbuhan, serta peningkatan kompetensi dan kapabilitas tenaga kerja.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin menyebut, Indonesia belum maju di bidang teknologi. Penyebabnya, anggaran riset kecil dan tidak konsistennya program prioritas pemerintah. “Anggaran untuk riset di Indonesia terlalu kecil hanya 0,08% dari DGP. Seharusnya minimal 1%,” kata Alex.
Anggaran yang kecil itu masih ditambah dengan tidak didukungnya program prioritas pembangunan yang berkelanjutan dan konsisten.
“Sekarang ini yang terjadi memang tidak konsisten. Setiap pemerintahan baru, maka program yang sudah ada sebelumnya tidak dilanjutkan, diganti dengan program baru. Itu tidak hanya di bidang teknologi, juga terjadi di bidang kesehatan, pendidikan dan lainnya,” tandasnya.
Menurutnya setiap daerah harus memiliki sikap konsisten dalam meneruskan program pembangunan. Ia mencontohkan Balitbangnovda (Balai Penelitian Pengembangan Inovasi Daerah) Sumsel selama 4 tahun berturut-turut terpilih sebagai balitbang terbaik di Indonesia.
Keberhasilan lembaga tersebut dikarenakan konsisten dalam mengawal program-program litbang dan inovasi serta anggaran risetnya cukup besar.
“Cukup banyak inovasi unggulan yang dihasilkan di antaranya persiapan kebun raya untuk tanaman obat herbal, pengembangan pusat riset stem cell, dan pengembangan bibit kerbau rawa. Saat ini hasil inovasi yang sudah berjalan di bidang pangan, kesehatan dan energi alternatif,” sebutnya. (tety)
