01/02/2026
Aktual

Indonesia Merespon Perubahan Iklim

JAKARTA (Pos Sore) — Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, mengatakan, banyak subtropik yang ‘berperan’ besar terjadinya perubahan iklim. Sebut saja pemanasan global, polusi udara, gas rumah kaca, kerusakan lapisan ozon, hujan asam, dan sebagainya. Persoalannya, kepekaan dan kewaspadaan saja tidak cukup tanpa diaktualisasikan dalam bentuk aksi nyata untuk mengendalikan laju perubahan iklim tersebut.

“Pemahaman yang benar dan komprehensif tentang penyebab, proses dan dampak dapat dijadikan landasan untuk pengembangan teknologi yang relevan dan mengendalikan proses perubahan iklim, sehingga dampaknya dapat diminimalisir. Mengendalikan iklim global hampir mustahil dilakukan tanpa kerjasama manusia di bumi itu sendiri,” tandas Gusti, saat membuka Workshop Teknologi Pertanian Ramah Iklim bertema ‘Indonesia Merespon Perubahan Iklim’, yang diadakan Dewan Riset Nasional (DRN), di BMKG, kemarin.

Menurutnya, gangguan terhadap penyimpangan energi dan air akan berpengaruh pada berbagai kegiatan sosial ekonomi. Dapat pula berimbas pada politik dan mengganggu stabilitas negara. Banyak riset dan pengembangan teknologi yang sudah dilakukan untuk mengantisipasi dan menyiasati perubahan iklim termasuk pengembangan kualitas tanaman yang toleran terhadap kekeringan atau genangan air secara temporer.

“Karenanya, perubahan iklim perlu mendapat perhatian khusus. Selanjutnya, perlu pengembangan teknologi yang relevan sebagai langkah antisipasi untuk menghindari dampak kepada semua aspek,” tandasnya.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dr. Andi Eka Sakya, menambahkan, fenomena cuaca ekstrim meningkat dalam hal frekuensi dan intensitasnya. Kenaikan suhu udara di wilayah Indonesia dalam seratus tahun terakhir mencapai 0,75 derajat celcius serta senantiasa diikuti kejadian ekstrim yang memicu bencana hidrometeorologi.

Menurutnya, kesehatan, rumah dan bahan pangan terancam dampak perubahan iklim yang tidak bisa dipulihkan. Keadaanya bersifat masif di semua benua dan lautan. Cuaca ekstrim seperti hujan lebat, badai kuat, gelombang panas, pencairan es kutub yang memicu pengasaman dan kenaikan air laut mengancam ekosistem dan kota di pesisir.

Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API) yang disusun Bappenas mengatakan dampak perubahan iklim di Indonesia terdiri atas 6 indikator. Yaitu, temperatur, curah hujan, suhu permukaan, tinggi muka laut, iklim ekstrim, cuaca ekstrim. Hal itu mengakibatkan dampak luas bagi bidang energi, infrastuktur, pemukiman, ekosistem, kehutanan, perkotaan dan pesisir, terutama bidang ketahanan pangan.

Dalam workshop ini dibahas beberapa hal terkait teknologi pertanian ramah iklim, proyeksi produksi dan perubahan iklim, rekayasa teknologi, masyarakat dan infrastruktur. Iding Chaidir, Sekretaris Dewan Riset Nasional (DRN), menyebut, workshop ini diadakan karena kepedulian pentingnya mempersiapkan bangsa Indonesia menghadapi perubahan iklim yang secara perlahan tapi pasti terus terjadi.

“Banyak yang telah dilakukan para peneliti di berbagai lembaga penelitian, pemerintah, universitas dan masyarakat di bidang perubahan iklim, yang dapat dimanfaatkan untuk merespon perubahan iklim agar hasil riset memberikan solusi nyata,” ujarnya. (tety)

Leave a Comment