JAKARTA (Pos Sore) – Kepala Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Agus Sumaryanto, mengatakan, Indonesia telah menguasai teknologi eksplorasi, penambangan dan pengolahan uranium skala pilot dengan kapasitas 2 ton/hari di daerah prospek, antara lain di daerah Kalan, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
Selain itu terdapat beberapa daerah potensial lainnya dengan tahapan “eksplorasi yang bervariasi seperti di Provinsi Kep. Bangka – Belitung, Kab. Mamuju – Sulawesi Barat, Sibolga – Sumatra Utara, dan Biak – Papua.
Mamuju adalah daerah prospek baru yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam waktu ke depan. Tingkatan potensi sumber daya Uranium di seluruh Indonesia hingga saat ini mencapai 70.000 ton U3O8 dan Thorium 125.000 ton Th,” paparnya di sela Training Meeting ‘Best Practice in The Uranium Production Cycle – From Exploration Through to Mining yang diadakan Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN) – BATAN bekerjasama dengan IAEA, di Jakarta, Selasa (14/10)
Dikatakan, Indonesia telah melaksanakan eksplorasi mineral radioaktif (bahan galian nuklir) sejak tahun 1972. Kegiatan ini bekerjasama dengan lembaga atom asing seperti CEA (Prancis), BGR (Jerman) dan PNC (Jepang).
Agus menjelaskan salah satu bahan mineral radioaktif yang diteliti Batan adalah monasit yang terkandung dalam penambangan PT Timah Tbk di Bangka Belitung, yang diperkirakan mencapai sekitar 1,5 miliar ton dan potensi ini perlu terus ditindaklanjuti.
Monasit belakangan menjadi sangat menarik karena merupakan salah satu metal radioaktif. Selain mengandung uranium dan thorium, juga ada logam tanah jarang yang bisa menjadi bahan peralatan teknologi modern, baik untuk kemananan, kendaraan bermotor, pesawat terbang, telepon, dan sebagainya.
Indonesia, katanya, memiliki potensi logam tanah jarang yang sangat besar. Karenanya, setelah China membuat kebijakan mengurangi ekspor logam tanah jarang, Indonesia menjadi daya tarik negara lain untuk berburu logam tanah jarang.
“Hampir 80% kebutuhan bahan ini di dunia selama ini dipenuhi oleh China. Dengan pembatasan itu praktis negara-negara yang membutuhkan logam tanah jarang mengalihkan perhatiannya kepada Indonesia. Yang lebih membanggakan, ternyata kita punya teknologinya juga untuk memisahkan itu. Dari monasit, dipisahkan antara logam tanah jarang, radio aktif, dan sebagainya.” jelasnya.
Penemuan Batan tentang kandungan logam tanah jarang dalam monasit telah ditindaklanjuti PT Timah Tbk dengan membangun pilot plant logam tanah jarang hidroksida. Pengembangan logam tanah jarang ini digarap melalui konsorsium yang dikoordinasikan oleh Batan.
“Pembangunan pilot plant logam tanah jarang hidroksida sendiri sudah dimulai sejak 5 April dan ditargetkan komisioning pada 4 Desember 2014. Targetnya kan sekitar sembilan bulan. Ini semua berdasarkan hasil penelitian Batan yang diaplikasikan oleh PT Timah Tbk,” kata Agus yang juga coordinator konsorsium itu.
Pilot plant logam tanah jarang hidroksida ini masih harus terus dikembangkan dan dibuat studi kelayakannya mengingat belum mencapai skala industri karena kapasitasnya baru 50 kg per hari. Nantinya, pilot plant logam tanah jarang akan dikembangkan lagi menjadi mini plant.
Agus mengakui, sejauh ini pengembangan teknologi monasit logam tanah jarang belum sepenuhnya bisa dilakukan. Dari sekitar 15 kandungan oksida dalam monasit logam tanah jarang, baru sekitar enam oksida yang bisa diidentifikasi dan dipisahkan. Karena itu, badan litbang Batan menginisiasi adanya kerjasama dengan negara lain. (tety)

