“Busana itu meningkatkan otoritas dan profesionalisme. Murid-murid masa kini sangat visual. Apa yang mereka lihat memengaruhi persepsi mereka tentang guru dan sekolah,” jelasnya.
Vrushalee menambahkan, desain warna navy yang tegas, dipadukan motif bunga bernuansa lembut, menggambarkan dua hal yang harus dimiliki guru: wibawa dan kehangatan. Ada ketegasan, tapi juga kasih sayang. Itulah filosofi seorang guru.
Sang desainer Nina Nugroho menjelaskan, filosofi busana yang dirancangnya lewat warna navy dipilih karena mencerminkan otoritas dan profesionalisme, sementara motif bunga melambangkan pertumbuhan, keindahan, dan kesabaran seorang guru.
“Busana ini kami rancang agar guru tampil berwibawa, tapi tetap lembut. Itu penting untuk memfasilitasi komunikasi antara guru, murid, dan orang tua,” ujarnya.
Persiapan seragam ini dimulai sejak 22 Oktober, dimulai dari pengenalan desainer hingga pengukuran seluruh guru. Setelah proses produksi selesai, barulah acara Hari Guru digelar.
“Ini bukan acara mendadak. Semua sudah disiapkan dengan matang agar Hari Guru tahun ini benar-benar berkesan,” kata Dhiti.
Mahatma Gandhi School sendiri percaya bahwa guru yang dihargai dan didukung akan membentuk lingkungan belajar yang lebih sehat.
“Rata-rata anak-anak sangat bahagia sekolah di sini. Mereka punya banyak kegiatan, akademik dan non-akademik, dan guru-guru kami sangat profesional,” kata Nonie Oley.
Perayaan Hari Guru tahun ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi cerminan dari ekosistem pendidikan yang hidup: sekolah, guru, orang tua, dan siswa yang semuanya bergerak bersama.
