Ketiga, bisa dilakukan melalui pemantauan pertumbuhan yang bisa dilakukan di Posyandu. Strategi ini dapat memantau pertumbuhan anak, mendeteksi dini masalah gizi dan memastikan pembertian imunisasi secara lengkap.
Keempat adalah akses pangan bergizi. Hal ini bisa dilakukan melalui kebun gizi, pasar murah dan bantuan pangan.
Politik Pangan Kolonialis
Meski Indonesia memiliki sumber pangan melimpah, namun masih ditemukan anak-anak yang kekurangan gizi. Hal ini kata Ahmad Kadarsyah tidak terlepas dari praktik politik pangan kolonialis.
Dalam politik pangan kolonialis, penjajah mencoba menguasai rakyat lewat urusan perut. Strategi yang digunakan adalah menghancurkan pangan lokal.
“Dengan cara seperti ini, rakyat akan bergantung pada pangan impor dan hilanglah kemandirian pangan. Ini sangat menguntungkan penjajah sekaligus menciptakan ketergantungan rakyat akan pangan impor,” jelas Ahmad Kadarsyah.
Indonesia dikatakan Ahmad Kadarsyah memiliki sumber pangan lokal yang beragam. Misalnya, Papua dan Maluku dengan sagunya, NTB dan NTT dengan jagung maupun sorgum, Jawa dan Madura dengan ubi, singkong, talas, jagung, lalu Sumatra dengan ubi kayu, ubi jalar, pisang dan lainnya.
Tidak hanya pangan sumber karbohidrat, Indonesia juga kaya akan pangan sumber protein nabati, beragam sayuran dan buah-buahan.
Namun politik pangan kolonialis, semua masyarakat didorong untuk konsumsi beras sebagai sumber karbohidrat dan melupakan sumber karbohidrat dari pangan lokal.
Ia juga memastikan Indonesia tidak mungkin mengalami kelaparan karena negara ini memiliki air yang melimpah, curah hujan tinggi, tanah subur dan matahari bersinar sepanjang tahun.
“Dengan fakta yang menguntungkan tersebut, Indonesia memiliki potensi besar untuk mencapai swasembada pangan karbohidrat nonberas, protein nabati, sayuran abadi, dan buah-buahan agroforestri,” tutupnya.
