4.6 C
New York
02/03/2024
Aktual

Guru Juga Harus Berdayakan Masyarakat

CIPANAS (Pos Sore)–Seorang guru bukan hanya bisa mendidik murid di dalam kelas, namun juga bisa melakukan pendampingan pemberdayaan masyarakat. Apabila guru berhasil melakukan pemberdayaan masyarakat di desa-desa, berarti  dirinya sudah mendapatkan sertifikasi.Demikian disampaikan Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr  Haryono Suyono saat memberikan arahan dalam diklat pendidikan dan pelatihan sistem  pengembangan profesi guru  di  Cipanas, Jawa Barat,  pekan ini.

Diklat ini diselenggarakan atas kerjasama Universitas Trilogi (UNTRI), Jakarta, Yayasan Damandiri dan Kemendikbud.Menurut Haryono,  seorang guru biasanya berada di depan kelas sehinga mereka pintar berpidato. Pidatonya dari hari kehari selalu berkembang. “Berbeda dengan para legislatif yang pidatonya cenderung selalu mengulang-ulang. Bicaranya itu-itu saja,” katanya.

Mantan Menko Kesra/ Taskin ini mengemukakan, saat ini  intelektualitas  guru di mata masyarakat sangat tinggi.  Dengan demikian guru akan menjadi model atau sosok yang baik. “Ini berarti kader partai politik terbaik adalah mantan guru. Apalagi apabila dia seorang  guru taman kanak-kanak yang tidak pernah menyalahkan muridnya, apabila muridnya salah,  selalu dikatakan bagus atau mengulangi lagi,” tutur Haryono yang disambut senyum para peserta diklat.

Apabila kader partai yang berasal dari guru itu  menjadi pemimpin,  diyakini  dia tidak akan selalu  menyalahkan rakyat. Untuk itu,  Haryono mengingatkan, seorang guru tidak boleh terlambat datang ke sekolah dan  tidak selalu mengeluh.Sifat-sifat mengeluh itu akan menurunkan kredibilitas seorang guru. Bila belum  mendapatkan sertifikasi, teruslah berjuang tanpa mengenal lelah mengembangkan inovasi atau  kreasi baru di kelas.

“Guru yang pintar tidak perlu mendapatkan sertifikasi. Keberhasilan seorang guru itu  bukan ditandai oleh sertifikasi, namun saat kelulusan tiba, semua murid akan menangis meneteskan  air mata merasa kehilangan gurunya yang baik,” tegasnya.Haryono Suyono juga mengajak  para guru untuk ikut mengembangkan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) dan budaya gotong royong di desa-desa .

Selain itu seorang guru juga harus bisa membuat kelompok-kelompok pemberdayaan dan mengadakan pertemuan yang mengundang kepala desa/lurah, camat atau bupati. “Ternyata guru itu lebih pintar dari Kepala Dinas Pendidikan. Jadi sertifikasi itu tidak diperlukan,” tambah Haryono lagi.

Kurikulum Jangan Diubah-ubah 

Sementara itu,  anggota Komisi I DPR ri, Hayono Isman,  mengemukakan seorang guru haruslah mampu menimbulkan jiwa kegotong royongan  di tengah masyarakat yangt saat ini sudah mulai menghilang. Ia mengingatkan,  warga yang  kaya sebaiknya membantu yang miskin sehingga terjadi pemerataan. “Membantu masyarakat miskin itu akan menimbulkan keberkahan,’’ katanya.

Mantan Menpora di  era Presiden Soeharto ini juga mengingatkan, seorang guru  harus  beriman, berkarakter,  berilmu, dan jangan mengubah kurikulum. ‘’ Meskipun presidennya selalu  berubah-rubah, namun kurikulum pendidikan tidak boleh berubah-ubah,” kata Hayono  sedikit bergurau.

Sedang  Rektor Universitas Trilogi, Prof Dr. Asep Saefuddin,M.Sc  mengingatkan, tugas seorang guru itu sangat mulia. Guru bisa menghasilkan presiden, menteri dan calon pemimpin lainnya.Dalam kaitan ini ia mengingatkan, Universitas Trilogi sendiri mempunyai program entrepreneur atau kewirausahaan, kolaborasi dan kemandirian. ‘’Setiap mahasiswa diajarkan pemberdayaan masyarakat melalui program Posdaya sehingga ketika lulus bisa menjadi pemimpin yang siap tempur,” katanya. (junaedi)

 

Leave a Comment