24.2 C
New York
25/07/2024
Aktual

GERAKAN WARUNG POSDAYA DI DESA

Oleh Prof. Dr. Haryono Suyono

AKHIR minggu lalu kita memperingati Hari Koperasi 2014. Peringatan itu pantas dijadikan momentum untuk mengingatkan seluruh anak bangsa bahwa cita-cita proklamator sejak dulu adalah memberi kesempatan kepada seluruh anak bangsa untuk mengambil peran aktif dalam membangun perekonomian bangsanya. Bukan hanya menjadi penonton atau bahkan menjadi konsumen dari segala produk yang dikembangkan oleh orang asing yang memanfaatkan sumber daya milik kita. Harapan itu belum tercapai atau bahkan setiap kali menyeleweng jauh dari cita-cita sesepuh bangsa yang luhur sejak semula.

Dalam lima tahun terakhir ini, Yayasan Damandiri secara telaten bersama ratusan ribu mahasiswa yang tergabung dalam gerakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik Posdaya, melalui kegiatan perguruan tinggi masing-masing, berusaha keras menyegarkan budaya gotong royong dan kebersamaan yang menjadi ciri utama gerakan koperasi di tingkat pedesaan. Keluarga desa yang kaya dan kurang mampu dipersatukan dalam wadah Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang diposisikan sebagai forum untuk saling berbagi dan peduli sesamanya.

Dalam wadah tersebut keluarga yang mampu dimotivasi untuk memberikan perhatian dan berbagi kepada keluarga kurang mampu. Lebih dari itu keluarga kurang mampu dihimbau untuk memperhatikan petunjuk dari keluarga yang lebih mampu dan berusaha bekerja cerdas dan keras agar segera terbebas dari lembah kemiskinan. Keluarga kurang mampu diharapkan menerima dan mempraktekkan kebiasaan hidup sehat, menyekolahkan anak-anaknya dan belajar ketrampilan agar bisa bekerja atau membuka ekonomi produktif.

Melalui upaya yang sangat telaten, dengan pendampingan mahasiswa yang tidak jemu-jemunya menjadi membantu, sebagian besar Posdaya menghasilkan perubahan sosial yang menakjubkan. Anak-anak keluarga miskin mulai usia sangat dini sudah mau berbodong-bondong masuk ke pendidikan anak usia dini (PAUD) dan tidak canggung bergaul dengan anak-anak balita dari keluarga yang lebih mampu. Ibu-ibu keluarga miskin tidak segan mengantar anak-anak itu ke PAUD yang ternyata berbaik hati ikut memberi pelatihan ketrampilan agar bisa ikut dalam usaha ekonomi produktif. Keluarga mampu sesama anggota Posdaya menawarkan kepada Ibu keluarga miskin kesempatan untuk ikut magang dalam usahanya sebagai media pelatihan.

Bagian lain dari Posdaya menggelar pelatihan ketrampilan yang mengutamakan keluarga miskin dan anggotanya ikut serta dalam pelatihan itu. Keberhasilan setiap pelatihan bukan lagi diukur dari juara yang paling baik mengerti apa yang dilatihkan, tetapi pada partisipasi dari keluarga miskin yang jumlahnya banyak. Dengan indikator itu sering terjadi masa lamanya pelatihan menjadi molor dan lebih lama karena peserta yang dilatih bukan juara yang pandai tetapi mereka yang belum pernah sekolah, miskin dan banyak yang tidak mengenal istilah yang biasanya dipergunakan oleh gurunya.

Melalui pelatihan-pelatihan seperti itu setapak demi setapak keluarga miskin yang biasanya mempergunakan waktunya untuk santai dan menunggu suami yang pulang dari sawah, mulai belajar mengolah sesuatu yang tersedia di sekelilingnya. Mereka mulai mananam sayuran di halaman rumahnya, membuat kolam lele, memelihara unggas dan akhirnya menikmati hasil tanaman halaman rumah yang berubah menjadi Kebun Bergizi. Biarpun nampaknya sederhana tetapi memerlukan disiplin yang tinggi karena setiap tanaman perlu diperlihara dengan baik agar membawa hasil yang menguntungkan.

Awal dari gerakan untuk diri sendiri menjadi produk yang bisa dijual di pasar atau kepada sesama tetangga. Kebiasaan sosial berubah menjadi kebiasaan bisnis yang menghasilkan komoditas ekonomi yang menguntungkan. Keluarga miskin mulai menggagas membuat warung untuk menjual hasil kebunnya atau hasil kolam ikannya. Satu dua membuat warung atau mulai berjualan ke pasar. Mulailah gerakan ekonomi kerakyatan yang benar-benar berasal dan mempunyai peserta rakyat biasa, bukan sekedar gerakan yang melayani rakyat saja.

Dengan suntikan modal kerja melalui gerakan menabung dan mengambil kredit mikro Tabur Puja melalui koperasi atau perbankan yang difasilitasi oleh Yayasan Damandiri, warung-warung itu mendapatkan pinjaman maksimum Rp 2 juta rupiah tanpa agunan. Karena banyak warung dengan segala aktifitasnya, dengan fasilitasi pemerintah daerah yang bekerja sama dengan Yayasan Damandiri, di beberapa kabupaten dibentuk Pusat Kulakan atau disebut Sentral Kulakan Posdaya (Senkudaya) untuk melayani warung-warung tersebut. Setiap warung bisa belanja ke Senkudaya dengan harga yang relatif lebih murah dan dalam waktu tertentu dengan sistem pinjaman tanpa bunga. Dengan cara itu setiap warung, apabila kecepatan penjualannya tinggi bisa memperoleh keuntungan ganda, harga lebih murah dan pinjaman tanpa bunga.

Sistem pengembangan Warung Posdaya yang didukung oleh Senkudaya tersebut dengan cepat berkembang ke beberapa kabupaten di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Gorontalo. Banyak keluarga yang bergabung dalam Posdaya merindukan cara pemasaran yang unik seperti ini. Permodalan yang jumlahnya relatif kecil telah bisa memberi bantuan nyata kepada keluarga miskin. Melalui sistem tersebut keluarga miskin mampu mengundang keluarga mampu mencintai produk lokal dengan berbelanja ke Warung Posdaya di desanya. Dengan cara demikian keluarga miskin tidak perlu menjadi peminta-minta tetapi dengan penuh kebanggaan berdagang dan menawarkan produk yang makin lama kualitasnya main baik kepada keluarga lain yang membutuhkan dengan harga yang lebih ringan. Selamat Hari Koperasi 2014. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri, www.haryono.com).

Leave a Comment