Tak hanya itu, dampaknya juga menjalar ke berbagai sektor lain. Aktivitas pameran turut menggerakkan sektor logistik, perhotelan, transportasi, hingga berbagai layanan pendukung lainnya. Presiden Direktur Dyandra Promosindo, Daswar Marpaung, menilai IFEX kini telah berkembang menjadi ruang strategis bagi pelaku industri furnitur dunia untuk saling terhubung.
“Lebih dari sekadar pameran dagang, IFEX telah berkembang menjadi platform business networking global bagi pelaku industri furnitur dan kerajinan. Pameran ini menjadi ruang strategis bagi produsen, buyers, desainer, dan pelaku bisnis untuk bertemu secara langsung dan menjalin kemitraan baru,” jelasnya.

Dari catatan panitia, China menjadi negara dengan jumlah buyers terbanyak yang hadir pada IFEX 2026. Setelah itu disusul oleh kawasan Uni Eropa, Australia, Amerika Serikat, India, Singapura, Jepang, dan Malaysia. Secara keseluruhan, buyers yang datang ke pameran ini berasal dari 86 negara.
Menariknya, minat dari pasar domestik juga menunjukkan tren yang semakin positif. Sejumlah peserta pameran melaporkan kesepakatan proyek lokal, terutama di sektor properti seperti hunian sewa jangka pendek dan berbagai konsep akomodasi modern.
Produk berbahan alami seperti batu, kayu solid, dan serat alam menjadi salah satu yang paling diminati. Tren ini sejalan dengan meningkatnya konsep wellness living yang kini banyak diadopsi dalam desain hunian—sebuah pendekatan yang menekankan suasana nyaman, tenang, dan dekat dengan alam.
Bagi Sobur, tingginya antusiasme buyers internasional maupun pasar domestik menjadi sinyal bahwa furnitur Indonesia semakin dipercaya di pasar global. Interaksi yang terjalin sepanjang pameran—mulai dari diskusi bisnis, penjajakan kemitraan, hingga kesepakatan transaksi—menunjukkan bahwa furnitur Indonesia terus menemukan tempatnya di pasar dunia.
Ke depan, HIMKI bersama Dyandra Promosindo berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan IFEX agar semakin sejajar dengan berbagai pameran furnitur kelas dunia. “Kami percaya industri ini masih akan terus bertumbuh. Masih banyak peluang yang bisa kita kejar untuk meningkatkan nilai ekspor,” kata Sobur.
Namun pertumbuhan itu, menurutnya, harus diiringi dengan peningkatan kualitas produk—baik dari sisi desain, keberlanjutan, strategi pemasaran, maupun promosi global. Di antara berbagai upaya tersebut, pameran seperti IFEX tetap menjadi salah satu pintu penting bagi furnitur Indonesia untuk menembus pasar internasional.
Sebab di ruang-ruang pameran itulah, kreativitas furnitur Nusantara bertemu dengan para pembeli dunia—dan dari sana, peluang baru terus terbuka. (aryodewo)
