POSSORE.ID, Jakarta — Di lorong-lorong luas Indonesia Convention Exhibition BSD City, langkah para pembeli dari berbagai negara tampak tak berhenti. Mereka berhenti sejenak di satu stan, meraba tekstur kayu solid, mengamati detail anyaman rotan, lalu beralih ke desain kursi modern yang memadukan sentuhan tradisi dan gaya kontemporer.
Suasana seperti itulah yang terasa selama empat hari penyelenggaraan Indonesia International Furniture Expo 2026. Pameran furnitur dan kerajinan terbesar di kawasan Asia Tenggara ini akhirnya resmi ditutup pada 8 Maret setelah berlangsung sejak 5 Maret, meninggalkan optimisme baru bagi industri furnitur nasional.
Sebuah perhelatan tahunan yang diselenggarakan oleh Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) bersama Dyandra Promosindo, IFEX kembali menjadi panggung penting bagi pelaku industri furnitur Indonesia untuk bertemu langsung dengan pasar dunia.
Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, mengatakan bahwa pameran ini terus berkembang menjadi salah satu platform bisnis global yang mempertemukan produsen furnitur Indonesia dengan para buyers internasional.
“IFEX terus berkembang menjadi platform bisnis global yang mempertemukan produsen furnitur Indonesia dengan buyers internasional. Antusiasme pengunjung dan capaian transaksi tahun ini menunjukkan bahwa furnitur Indonesia memiliki daya saing kuat di pasar global,” ujarnya dalam konferensi pers pada hari terakhir pameran.
Selama empat hari penyelenggaraan, IFEX mencatat kehadiran sebanyak 13.437 buyers dan pengunjung dari berbagai negara. Tak hanya ramai secara kunjungan, pameran ini juga mencatat nilai transaksi langsung (on-the-spot) sebesar USD 300 juta atau sekitar lima triliun rupiah lebih.
Angka tersebut semakin memperkuat posisi IFEX sebagai salah satu pameran furnitur terbesar di Asia Tenggara sekaligus platform perdagangan global yang menghubungkan produsen furnitur Indonesia dengan pembeli dari berbagai belahan dunia.
Namun bagi industri furnitur nasional, IFEX bukan sekadar soal angka transaksi. Pameran ini juga membuka ruang bagi pelaku industri dari berbagai skala—mulai dari perusahaan besar hingga pelaku UMKM—untuk memperluas jaringan bisnis, meningkatkan ekspor, sekaligus memperkenalkan kekayaan desain dan keahlian kriya Indonesia kepada pasar global.
