Glenn Candranegara Nahkodai HIMKI Jawa Timur, Semangat Membangun Ekosistem Industri Kian Menguat
POSSORE.ID, Surabaya — Pagi itu, ruang pertemuan di Hotel Morazen Surabaya dipenuhi wajah-wajah yang tidak asing bagi industri mebel dan kerajinan Indonesia. Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa Timur, membawa pengalaman, harapan, sekaligus optimisme terhadap masa depan industri yang selama puluhan tahun menjadi salah satu penopang ekonomi nasional.
Di tengah suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan itulah Musyawarah Daerah (MUSDA) Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (DPD HIMKI) Jawa Timur menetapkan Glenn Candranegara sebagai Ketua DPD HIMKI Jawa Timur periode 2026–2029.
Penetapan tersebut bukan sekadar pergantian kepemimpinan organisasi. Lebih dari itu, MUSDA menjadi momentum penting untuk menegaskan arah baru industri mebel dan kerajinan Jawa Timur di tengah persaingan global yang semakin kompleks.

Lebih dari 120 anggota HIMKI hadir dalam forum tersebut. Mereka merupakan pelaku industri mebel dan kerajinan dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Timur, termasuk sejumlah eksportir nasional yang selama ini berkontribusi besar membawa produk furnitur Indonesia menembus pasar Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, hingga berbagai negara lainnya.
Dalam sambutannya, Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, mengingatkan bahwa lanskap persaingan industri dunia telah berubah. Jika dahulu perusahaan bersaing dengan perusahaan lain, kini yang saling berhadapan adalah ekosistem industri.
Pengalaman mengikuti kunjungan industri ke Nankang, China, menurutnya memberikan pelajaran penting tentang bagaimana sebuah kawasan mampu tumbuh menjadi pusat furnitur dunia bukan semata karena besarnya investasi atau jumlah pabrik, melainkan karena kuatnya keterhubungan seluruh rantai industri.
“Sepulang dari kunjungan industri ke Nankang, China, saya semakin yakin bahwa masa depan industri mebel dan kerajinan Indonesia tidak ditentukan oleh satu atau dua perusahaan besar, tetapi oleh kemampuan kita membangun ekosistem yang kuat, produktif, dan saling terhubung,” ujar Sobur.
Pandangan tersebut menjadi sangat relevan bagi Jawa Timur. Provinsi ini selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan utama industri furnitur nasional. Didukung pelabuhan internasional, kawasan industri yang berkembang, sumber daya manusia yang kompeten, serta jaringan ekspor yang luas, Jawa Timur memiliki fondasi yang kokoh untuk menjadi pusat industri mebel dan kerajinan terdepan di kawasan Asia Tenggara.
Tak hanya itu, sejumlah perusahaan furnitur dan kerajinan asal Jawa Timur telah berhasil menempatkan produk-produk Indonesia di pasar global dan menjadi bagian dari rantai pasok internasional.
Di tangan kepemimpinan baru, harapan tersebut ingin diterjemahkan menjadi langkah-langkah yang lebih konkret. Glenn Candranegara menyatakan komitmennya untuk memperkuat sinergi antaranggota, meningkatkan daya saing industri, memperluas akses pasar ekspor, sekaligus mendorong lahirnya generasi baru pelaku industri mebel dan kerajinan di Jawa Timur.
Regenerasi menjadi salah satu agenda penting yang mendapat perhatian. Di tengah perubahan teknologi dan pola perdagangan dunia, industri membutuhkan lebih banyak pelaku usaha muda yang mampu menghadirkan inovasi, desain, dan model bisnis yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Bagi HIMKI, keberhasilan industri tidak hanya diukur dari besarnya angka ekspor. Industri mebel dan kerajinan juga memiliki peran strategis dalam menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi daerah, serta memperkenalkan identitas Indonesia melalui produk-produk yang digunakan masyarakat dunia.
Karena itu, kepengurusan baru DPD HIMKI Jawa Timur diharapkan mampu menjadi motor penggerak kolaborasi yang lebih kuat di antara pelaku usaha, pemerintah, lembaga pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Menutup sambutannya, Abdul Sobur kembali menegaskan pesan yang menjadi benang merah perjalanan industri saat ini. “Mari kita tidak hanya membangun perusahaan yang kuat, tetapi membangun ekosistem industri yang kuat. Karena masa depan Indonesia akan ditentukan oleh kemampuan kita menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan daya saing global secara berkelanjutan.”
Dari Surabaya, pesan itu menggema lebih jauh dari sekadar ruang sidang organisasi. Ia menjadi pengingat bahwa masa depan industri furnitur Indonesia tidak hanya dibangun oleh individu atau perusahaan tertentu, melainkan oleh kemampuan seluruh pelaku industri untuk bergerak bersama dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. (aryodewo)
