POSSORE.ID, Nankang — Di sebuah ruang sidang di Nankang, Jiangxi, China, puluhan bendera negara berdiri sejajar. Para pelaku industri furnitur dari berbagai belahan dunia berkumpul dalam Annual General Meeting World Furniture Confederation (WFC) 2026.
Di tengah pertemuan itu, muncul sebuah pelajaran yang terasa sederhana, namun sangat relevan bagi masa depan industri Indonesia yakni persaingan global hari ini tidak lagi sekadar soal perusahaan atau negara. Yang sedang bertarung adalah ekosistem industri.
Bagi banyak orang, Nankang mungkin belum sepopuler kota-kota industri besar lainnya di China. Namun wilayah di Provinsi Jiangxi itu kini menjelma menjadi salah satu pusat industri furnitur terbesar di dunia.
Pengalaman tersebut menjadi catatan penting yang dibawa pulang Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, setelah menghadiri menghdiri acara itu beberapa hari lalu.
Menurut Sobur, kekuatan Nankang tidak hanya terletak pada jumlah pabrik atau kapasitas produksinya. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh rantai industri terhubung dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Mulai dari penyediaan bahan baku, teknologi mesin, logistik, desain, pendidikan vokasi, pembiayaan, perdagangan digital, hingga dukungan pemerintah berjalan dalam satu arah yang sama. Hasilnya adalah industri yang mampu bergerak lebih efisien, lebih produktif, dan semakin kompetitif di pasar global.
“Persaingan global kini bukan lagi antar perusahaan. Bahkan bukan lagi antar negara semata. Persaingan global hari ini adalah antar ekosistem industri,” ujarnya.
Pelajaran inilah yang dinilai penting bagi Indonesia, khususnya bagi sektor mebel dan kerajinan yang selama ini kerap dipandang sebagai industri tradisional. Padahal, di balik citra tersebut, sektor ini menyimpan potensi strategis yang sangat besar bagi perekonomian nasional.
Pertama, industri mebel dan kerajinan merupakan sektor bernilai tambah tinggi. Produk yang dipasarkan dan diekspor bukan lagi bahan mentah, melainkan hasil kreativitas yang telah melalui proses desain, produksi, hingga inovasi.
Kedua, sektor ini memiliki karakter padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Rantai nilainya melibatkan banyak pihak, mulai dari petani kayu, pengrajin, operator mesin, desainer, tenaga finishing, pelaku logistik, hingga pemasaran.
Ketiga, industri ini menciptakan efek berganda yang luas karena terhubung dengan berbagai sektor lain seperti kehutanan, perkebunan, industri pengolahan, perdagangan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan jasa.
Namun bagi Sobur, ada dimensi lain yang sering luput dari perhatian. Ketika sebuah meja kayu, kursi, lampu, produk rotan, atau dekorasi buatan Indonesia digunakan di rumah, hotel, kantor, maupun restoran di luar negeri, yang hadir sesungguhnya bukan sekadar sebuah barang.
