Berbeda dari Sleman yang basah oleh riak kolam, Boyolali menawarkan pemandangan lain: ladang hijau yang tersambung dengan kandang-kandang sapi perah. Di sinilah UD Pramono menjadi salah satu simpul penting distribusi susu murni lokal.
Kunjungan ke Boyolali dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari. Perum BULOG diwakili oleh Direktur Febby Novita, yang juga berdialog dengan para peternak.

Di tengah bau rumput segar dan suara sapi yang ritmis, pembicaraan mengalir tentang bagaimana susu lokal harus mampu bersaing. Tentang label halal, izin BPOM, kualitas, dan jaringan distribusi yang luas.
“BULOG memiliki fungsi komersial yang dapat mendukung pengembangan usaha susu murni. Jika produk sudah memenuhi syarat perizinan, kami siap menjadi mitra untuk pendistribusian secara komersial,” kata Febby. Ia mengingatkan, BULOG memiliki jaringan kuat: 26 kantor wilayah dan 159 cabang di seluruh Indonesia—jejaring yang bisa membawa susu Boyolali sampai ke dapur keluarga di pelosok negeri.
Kunjungan dua hari itu bukan hanya peninjauan. Ia adalah penegasan kembali bahwa ketahanan pangan Indonesia tidak bisa bergantung pada satu komoditas saja. Ikan untuk protein. Susu untuk tumbuh kembang. Dan BULOG untuk menjahit keduanya dalam satu rantai distribusi yang kokoh.
Swasembada pangan bukan mimpi yang datang dari slogan. Ia lahir dari tangan-tangan yang bekerja di kolam, di kandang, di lapangan, dan di balik meja rapat kebijakan. Ia memerlukan sinergi: DPR, pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, hingga para petani dan peternak yang menjadi garda terdepan.
Perjalanan ke Sleman dan Boyolali ini mengingatkan bahwa pangan bukan sekadar kebutuhan. Ia adalah martabat. Dan menjaga martabat itu adalah tugas bersama. (aryodewo)
