Di tengah diskusi yang kebanyakan bernada teknis, Ahmad Rizal mengurai inti program ini dengan bahasa yang sederhana namun mengena: BULOG tak hanya membangun gudang, tapi menciptakan ekosistem usaha. Dalam skema kolaborasi triadik—BULOG, penggilingan/petani, dan investor swasta—setiap pihak punya peran jelas. BULOG menjamin pasar lewat offtake agreement, investor menanamkan modal teknologi, dan penggilingan kecil mendapatkan akses yang selama ini mustahil mereka miliki.
Dengan nilai investasi mencapai Rp 5 triliun, proyek ini memberi prioritas pada wilayah yang minim fasilitas, termasuk Nias Selatan dan Morotai. Targetnya ambisius: seluruh gudang rampung dalam satu tahun dan beroperasi sebelum panen raya 2026.
Disertasi yang melandasi program besar ini menggunakan pendekatan Soft Systems Methodology-based Multimethod, diperkaya GIS, clustering analysis, dan multi-criteria decision analysis. Hasilnya kini tengah ditinjau untuk publikasi di jurnal-jurnal internasional, termasuk Scopus Q1 dan Q2, serta siap terbit di Jurnal Pangan edisi September–Desember 2025.
Sidang tertutup yang memuluskan perjalanan akademik ini dipimpin oleh para ilmuwan dan tokoh akademik ternama—dari Menteri Pertanian sendiri, hingga guru besar IPB dan para profesor UI. Namun lebih dari sekadar pencapaian akademik, riset ini kini menerjemahkan diri menjadi kebijakan yang menjangkau desa-desa, menyentuh para penggiling padi kecil, dan mengubah cara Indonesia membangun ketahanan pangannya.
Pada akhirnya, yang tersisa dari hari itu bukan hanya gelar doktor atau presentasi penelitian, tetapi harapan baru bahwa rantai panjang padi—dari bulir yang rontok di sawah hingga nasi di meja makan—akan dikelola dengan lebih adil, lebih efisien, dan lebih manusiawi.
Dan dari langkah BULOG hari ini, terasa jelas bahwa masa depan pangan Indonesia sedang dirancang bukan dari gedung tinggi di Jakarta saja, tetapi dari gudang-gudang sederhana yang akan berdiri di pelosok negeri. (aryodewo)
