Komite ini telah mengembangkan lebih dari 45 standar internasional, termasuk ISO 13006 tentang definisi, klasifikasi, karakteristik, dan penandaan ubin keramik, serta seri ISO 10545 tentang metode pengambilan sampel dan pengujian.
Standar-standar tersebut menjadi tolok ukur global bagi produsen, regulator, dan konsumen untuk memastikan ubin keramik memenuhi kriteria kinerja, keselamatan, dan keberlanjutan lingkungan.
Dalam pertemuan ini, 72 delegasi dari 16 negara berpartisipasi aktif, di antaranya dari Australia, Brasil, Kanada, Tiongkok, India, Italia, Jepang, Malaysia, Meksiko, Norwegia, Spanyol, Tanzania, Turki, Inggris, Amerika Serikat, dan Indonesia.
Para delegasi berdiskusi dalam 11 kelompok kerja (Working Group) yang membahas isu-isu penting industri ubin masa kini seperti metode pengujian, spesifikasi produk, sistem instalasi, keberlanjutan, sifat antimikroba, serta ketahanan terhadap selip, dan pengurangan jejak karbon.
Melalui kelompok-kelompok kerja ini, dibahas sembilan draf standar ubin keramik yang terkait spesifikasi, karakteristik, metode uji, dan keberlanjutan.
Di antaranya, ISO/CD 10545-22, ISO/DIS 10545-25, ISO/PWI 13006, ISO 13007-1, ISO 13007-3, ISO/PWI TS 17870-2, ISO/AWI 13087, ISO/DIS 17889-3, dan Proposal of WD for revising ISO 14448.
Pembahasan ini diharapkan semakin memperkuat relevansi dan responsivitas standar ISO terhadap tantangan industri masa kini dan mendatang.
Forum ISO/TC 189 menjadi wadah penting untuk membentuk arah masa depan standardisasi ubin keramik, memastikan standar yang dihasilkan tetap relevan, praktis, dan adaptif terhadap kebutuhan industri serta konsumen global.
Kristianto mengajak seluruh negara anggota ISO, para pakar, dan pemangku kepentingan industri untuk terus memperkuat kolaborasi dan konsensus internasional.
“Melalui sinergi global dalam pengembangan standar, kita dapat mewujudkan industri ubin keramik yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
