Namun, di balik optimisme tersebut, sejumlah pengamat menilai rencana ekspor beras tetap memerlukan pengawasan yang cermat. Ketahanan pangan bukan hanya soal kemampuan mengekspor, tetapi juga memastikan ketersediaan beras di dalam negeri tetap stabil, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Fluktuasi produksi akibat perubahan iklim, tantangan distribusi antarwilayah, serta potensi gejolak harga domestik menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Apalagi, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa kebijakan ekspor pangan kerap menjadi sensitif ketika stok nasional menghadapi tekanan.
Selain itu, perhatian juga perlu diarahkan pada konsistensi kualitas beras yang dikirim. Jika ekspor ini ingin menjadi bagian dari diplomasi pangan jangka panjang, standar mutu harus benar-benar dijaga, bukan hanya untuk kepentingan simbolik, tetapi juga untuk menjaga reputasi Indonesia di pasar global.
Program ini juga menuntut transparansi tata kelola, mulai dari proses pengadaan hingga penentuan mitra distribusi. Keberhasilan ekspor beras haji tidak hanya diukur dari sampainya beras di Tanah Suci, tetapi juga dari seberapa efisien, akuntabel, dan berkeadilan prosesnya bagi petani dan rantai pasok di dalam negeri.
Di sisi lain, peluang yang terbuka juga tidak kecil. Jika dikelola dengan baik, ekspor beras haji dapat menjadi pintu masuk bagi produk pangan Indonesia ke pasar Timur Tengah. Lebih dari itu, program ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi pangan global, terutama sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.
Melalui dukungan lintas kementerian, termasuk Kemenko Pangan, Badan Pangan Nasional, Kementerian Haji dan Umrah, serta berbagai lembaga terkait, ekspor Beras Haji 2026 diharapkan menjadi tonggak baru bagi perjalanan sektor pangan nasional.
Pada akhirnya, pengiriman beras ke Arab Saudi bukan sekadar perjalanan logistik lintas negara. Ia membawa cerita tentang upaya Indonesia menyeimbangkan antara kebanggaan nasional dan tanggung jawab menjaga perut rakyatnya sendiri. Sebuah langkah yang menjanjikan, namun tetap memerlukan kehati-hatian agar kebanggaan itu benar-benar berdiri di atas fondasi ketahanan pangan yang berkelanjutan. (aryodewo)
