01/02/2026
Aktual

Batan Kuasai Teknologi Pengolahan Pemisahan Uranium dan Thorium

JAKARTA (Pos Sore) – Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) telah menguasai teknologi pengolahan pemisahan Uranium dan Thorium terutama dari monasit hasil aktivitas pertambangan timah di Pulau Bangka. Dari hasil pemisahan ini didapatkan Logam Tanah Jarang oksida yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.

“Logam tanah jarang sangat dibutuhkan sebagai magnet untuk industri elektronik dan mesin. Saat ini sedang terjadi penurunan langka pasokan logam tanah jarang akibat perlindungan ekspor dari negara pemasok logam tanah jarang terbesar di dunia, yaitu China,” kata Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Prof. Djarot Sulistio Wisnubroto.

Ia menegaskan hal itu usai memberikan pengarahan pada Training Meeting ‘Best Practice in The Uranium Production Cycle – From Exploration Through to Mining yang diadakan
Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN) – BATAN bekerjasama dengan IAEA, di Jakarta, Selasa (14/10)

Acara ini dinilai sangat penting untuk berbagi informasi tentang teknologi, pengoperasian, good practices, peraturan dan kebijakan untuk negara anggota yang berada di tahap awal siklus produksi uranium. Dihadiri negara anggota di kawasan Asia dan Pasifik, para ahli dari IAEA, perwakilan dari Indonesia, beberapa perwakilan kementerian dan universitas.

Gatot menambahkan, karena keberhasilan itu, tahun depan, Batan bekerjasama dengan PT. Timah akan mendirikan Pilot Plant Pengolahan Monasit di Pulau Bangka untuk meningkatkan nilai keekonomian sekaligus dapat mengurangi pencemaran lingkungan radioaktif di sekitar wilayah pertambangan.

“Kegiatan penelitian dan pengembangan pada eksplorasi, penambangan, dan pengolahan uranium dan thorium merupakan bagian dari support untuk mendukung program PLTN di Indonesia,” katanya.

Berdasarkan statisik 2013, kapasitas pembangkit listrik hanya 47 GWe yang menghasilkan 17 miliar kWh, untuk melayani 250 juta penduduk Indonesia. Sementara itu, berdasarkan Kebijakan Energi Nasional (KEN) 2014, kebutuhan listrik tersebut pada 2025 akan meningkat menjadi 115 GW. Dengan begitu, meski energi baru lainnya, seperti solar, mikro-hidro, angin, panas bumi telah dioptimalkan, penggunaan energi nuklir tidak dapat dihindari.

“Calon tapak PLTN Bangka Selatan dan Bangka Barat diperkirakan dapat menghasilkan listrik 10 GWe,” tandasnya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral saat ini sedang mempersiapkan Buku Putih untuk mempercepat pembangunan 5000 MW PLTN di Bangka Belitung pada 2014-2024.

Untuk memperkuat penerimaan masyarakat, Batan berencanana membangun reaktor daya non-komersial di Serpong, dekat Jakarta. Reaktor Daya Non Komersial diharapkan menjadi model atau percontohan untuk PLTN mini dan juga diterapkan untuk pembangkit kogenerasi, seperti, produksi hidrogen, desalinasi dan lain-lain.

Di masa depan, setelah PLTN didirikan di Indonesia, kita bisa mengandalkan aktivitas pertambangan, eksplorasi serta eksploitasi uranium untuk mendukung pengoperasian PLTN. (tety)

Leave a Comment