JAKARTA (Pos Sore) — Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mendirikan Center for Security Culture and Assessment (CSCA) atau Pusat Pengkajian dan Budaya Keamanan di kawasan Asia Tenggara. Tujuannya, membantu International Atomic Energy Agency (IAEA) mempromosikan budaya keamanan nuklir.
Keamanan nuklir berdasarkan definisi IAEA adalah membangun karakteristik, sikap dan perilaku individu, organisasi dan lembaga yang berfungsi sebagai sarana untuk mendukung dan meningkatkan keamanan nuklir.
Kepala BATAN, Djarot S Wisnubroto, mengatakan, budaya keamanan dapat berperan penting dalam mencegah dan mendeteksi, serta tanggap terhadap pencurian, sabotase, pemindahan secara ilegal dan tindakan jahat terhadap bahan nuklir, bahan radioaktif atau fasilitas nuklir lainnya.
“Budaya keamanan nuklir membuat faktor manusia menjadi aset keamanan nuklir,” tandas Djarot usai Inagurasi CSCA yang dihadiri perwakilan dari negara Indonesia, Austria, USA, Bulgaria, Marocco, Korea Selatan, Italia Vietnam, Malaysia, Thailand, Ukraina, Japan, Belgia, dan Myanmar, di Hotel Grand Zuri, BSD, Tangerang, Senin (29/9).
Gatot mengungkapkan, Batan sebenarnya mengimplementasikan konsep pedoman budaya keamanan nuklir IAEA pada karyawannya pada 2008. Dengan pertimbangan, pegawai Batan sebagian besar di atas usia 50 tahun.
“Karena sudah lama bekerja di Batan, merasa sudah kenal dengan lingkungan kantor jadi merasa aman melintasi daerah-daerah terpapar radiasi. Karenanya pedoman ini diterapkan,” tambahnya.
Menurutnya, pedoman ini penting karena bagaimana negara lain percaya pada Indonesia, jika kita sendiri tidak menerapkan pedoman keselamatan nuklir.
Lalu Batan pada 2010 menyusun program sosialisasi budaya keamanan kepada seluruh pegawai. Kemudia pada 2012, Batan bekerjasama dengan IAEA dan Center for International Trade and Security at The University of Georgia, menjalankan pilot project self-assessment methodology di fasilitas reaktor Batan.
Hasilnya dipresentasikan pada IAEA Technical Meeting on Security Culture Self Methodologies di Wina pada April 2013. Pertemuan yang dihadiri 30 negara anggota IAEA ini menjadikan pengalaman Indonesia sebagai dasar untuk memperbaiki draf pedoman yang ada.
“Pengalaman Batan ini dalam mengimplementasikan pedoman budaya keselamatan nuklir telah mendapatkan pengakuan dari pakar internasional. IAEA pun meminta Batan untuk menularkan pengalaman tersebut ke negara lain,” kata Kazuko Hamada, Nuclear Security Culture Officer IAEA.
Igor Khripunov PhD, praktisi nuklir dari School of Public and International Affairs The University of Georgia, menambahkan, Indonesia menjadi role model bagi negara-negara lain dalam penerapan budaya keamanan nuklir.
Apakah pendirian CSCA di kawasan Asia Tenggara ini menjadi dasar pembangunan PLTN, Igor menandaskan, itu tergantung pada pemerintah Indonesia. Ia menyadari sejak kasus meledaknya PLTN di Jepang, banyak negara yang meninggalkan PLTN.
“Tetapi menurut saya, adanya pemanasan global ini, PLTN menjadi pilihan yang baik,” ujarnya. (tety)
