Pontjo juga menyoroti fenomena feodalisme modern yang tercermin dalam budaya birokrasi yang ingin dilayani, praktik politik uang, dan kultus individu dalam politik.
Ia menilai ketergantungan ekonomi pada impor dan dominasi perusahaan multinasional dapat mengancam kedaulatan ekonomi nasional.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga menghadirkan tantangan baru berupa manipulasi opini publik melalui algoritma, hoaks, dan polarisasi masyarakat.
Pontjo memberikan solusi yaitu dengan pentingnya membangun nasionalisme sejati yang berpihak kepada rakyat dan berani melawan ketidakadilan.
Ia juga menegaskan negara harus berfungsi sebagai alat pembebasan rakyat dengan melindungi, mencerdaskan, dan menyejahterakan masyarakat.
“Sebagai alat pembebasan menurut Bung Karno, negara harus melindungi rakyat, mencerdaskan rakyat, menyejahterakan rakyat. Jika tidak, maka negara berubah menjadi penjajah baru,” ucapnya.
Meskipun kemerdekaan politik telah diraih, namun kemerdekaan batiniah masih jauh dari ideal. Warisan penjajahan yang merusak kepercayaan diri, kemandirian, dan akar sejarah bangsa, masih bercokol kuat dalam pola pikir dan tindakan sebagian elite maupun masyarakat.
Kolonialisme mental ini memanifestasikan diri dalam berbagai bentuk, seperti mentalitas peniru yang tunduk pada selera global, mentalitas pecundang yang menormalisasi ketidakadilan, serta sistem pendidikan yang lebih menekankan hafalan daripada nalar.
