13.9 C
New York
04/05/2026
Aktual

Ajakan Gerakan Bersama Atasi Penyakit Jantung

JAKARTA (Pos Sore) — Penyakit jantung masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang mengancam nyawa masyarakat Indonesia. Rendahnya kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit ini membuat kasus penyakit jantung tinggi di Indonesia.

Karenanya, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki) yang berdiri pada 1957 mengajak masyarakat untuk melakukan Gerakan Bersama Atasi Penyakit Jantung. Perlindungan jantung bagi masyarakat membutuhkan urun tangan semua pihak dan gerakan bersama atasi penyakit jantung adalah kerja kita semua.

“Karena kurang waspada dan kurang pengetahuan, gejala sakit jantung kerap dianggap masuk angin. Kalau nyeri dada, atau sesak napas, dibilangnya masuk angin. Nanti ketika tiba-tiba meninggal disebutnya angin duduk atau kesambet. Ini yang menyebabkan masih tingginya kematian akibat penyakit jantung di Indonesia,” papar dr Sunarya Soerianata, SpJP(K), Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah.

Ia mengungkapkan hal itu dalam pertemuan Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association (ASMIHA) ke-24 bertema The Current and Future Landscape of Cardiovascular Management yang diadakan PERKI, di Jakarta, Jumat (10/4). Pertemuan ilmiah selama tiga hari ini dihadiri kurang lebih 1.500 dokter dari berbagai kalangan, termasuk dokter umum, dokter penyakit dalam, hingga dokter spesialis jantung.

“Diharapkan dengan adanya pertemuan ilmiah ini, kompetensi dokter, terutama dokter umum, akan meningkat untuk mengatasi penyakit jantung sehingga tidak ada lagi masyarakat Indonesia yang meninggal karena penyakit jantung,” tambahnya.

Ketua PERKI, dr Anwar Santoso, SpJP(K), menambahkan, di era sistem jaminan sosial, penyakit jantung termasuk salah satu penyakit yang menyedot biaya tinggi. Laporan dana pengeluaran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tahun 2014 mengatakan penyakit jantung‎ ‘menghabiskan’ 26% dana pengeluaran.

“Penyakit jantung, termasuk jantung koroner, operasi bypass, pemasangan ring dan lain lain menyedot dana 26 persen. Kurang lebih Rp11 triliun dari total pengeluaran BPJS yang mencapai Rp 40 triliun,” tutur mantan direktur Pusat Jantung Nasional Harapan Kita ini.

Penyakit jantung sendiri, kata dia, sebetulnya dapat dicegah jika pengetahuan masyarakat soal penyakit sudah memadai. Masalahnya, kurangnya kesadaran masyarakat menyebabkan penyakit jantung sering diremehkan sehingga pasien terlambat mendapat pertolongan dokter.

“Sebanyak 80 Persen penyakit jantung sebenarnya bisa dicegah oleh dokter-dokter umum di fasilitas kesehatan primer. Dan satu per tiga kematian akibat penyakit jantung terjadi karena terlambat mendapat pertolongan. Karena itu, kewaspadaan soal penyakit ini harus lebih ditingkatkan,” tandasnya.

PERKI mendorong gerakan bersama melakukan pelayanan serangan jantung yang cepat dan berkualitas. Kota-kota di Indonesia perlu mengembangkan diri sebagai kota ramah jantung yaitu kota yang dapat memberikan pelayanan bagi warga yang mengalami serangan jantung dengan cepat melalui penyediaan infrastruktur termasuk ambulan yang dapat menjemput pasien serangan jantung.

“Pusat pusat keramaian masyarakat apakah di bandara, terminal, mall-mall dan pasar-pasar perlu menyediakan fasilitas pelayanan kegawatdaruratan jantung. Perlindungan jantung bagi masyarakat membutuhkan urun tangan semua pihak dan gerakan bersama atasi penyakit jantung adalah kerja kita semua,” tegasnya.

Penyakit jantung sendiri telah menjadi ancaman dunia karena berperan utama sebagai penyebab kematian di seluruh dunia. Karenanya, Badan kesehatan dunia (WHO) mendorong setiap negara untuk serius melakukan upaya upaya kesehatan yang berperan dalam mencegah ataupun mengatasi penyakit yang dapat berakibat fatal ini. (tety)

Leave a Comment