JAKARTA (Pos Sore) –Ketua Kadin DKI Jakarta,Eddy Kuntadi mengungkapkan, konferensi investasi tentang merger dan akuisisi 2015 merupakan peluang yang sangat tepat dalam mendorong dunia usaha khususnya usaha kecil menengah bermitra dan membuka diri dengan dunia internasional.
“Ini peluang, kendati merger dan akuisisi ini belem umum di Indonesia. Walaupun sudah banyak yang melakukannya di Indonesia.Kebanyakan perusahaan besar ke perusahaan di Indonesia. Dengan hubungan internasional ini diharap makin banyak yang melakukan di Indonesia,”ungkap Eddy di sela acara Konferensi Investasi Tentang Merger dan Akuisisi 2015, Kamis (26/3).
Ia menilai kegiatan ini cukup bagus karena sebenarnya banyak yang mau melakukan merger dan akuisisi tetapi tidak tahu bagaimana caranya.Di sisi lain,kata Eddy, Indonesia juga ingin melakukannya tetapi informasinya terbatas. “Karena itu kami ingin lebih banyak menyebarluaskan informasi kepada mereka diharap ada yang deal dari sini. Ini sifatnya merger dan akuisisi. Bisa saja mrk sendiri tentukan.”
“Ini peluang, kendati merger dan akuisisi ini belem umum di Indonesia. Walaupun sudah banyak yang melakukannya di Indonesia.Kebanyakan perusahaan besar ke perusahaan di Indonesia. Dengan hubungan internasional ini diharap makin banyak yang melakukan di Indonesia.”
Kadin sebagai payung dunia usaha ingin agar tercakup juga usaha yang berada di luar lingkungan Kadin Indonesia. “Apalagi dalam kegiatan dunia usaha. Ada list lebih dari 30 negara yang hadir di sini. Dari 4 benua ada dr Afrika Selatan, juga dari Rusia, Eropa, Amerika.Bidang usaha lebih dari 40 bidang usaha.”
Ia berharap Informasi ini bisa ditangkapĀ dan akan menjadi bola salju berikutnya.Pihaknya, kata Eddy membuka semua lapangan usaha bagi peminat untuk investasi di Indonesia. “Ini baru pertama kali mereka datang ke sini. Melalui Global Scope yang spesialisasinya ke sana jusrtu akan menjadi alternatif di luar investas untuk investor yang langsung berinvestasi. Untuk cari mitra di sini.”
Eddy menyatakan, membuka peluang semua usaha terutama industri kreatif, di Jakarta. Selain itu ada pengusaha di DKI Jakarta yang kegiatan usahanya di luar DKI Jakarta. “Untuk menarik investasi, mereka lihat potensi sumber daya alam kita luar biasa. Jadi diharap melalui KADIN ini sebagai pintu untuk memberi informasi bahwa ada satu global funding yang punya minat menarik mitra dari luar, untuk berinvestasi di Indonesia.
Hal ini,katanya,sebagai trigger awal karena ia melihat potensi yang ada di Jakarta itu lebih banyak industri kreatif, turisme. Ini yang akan didorong namun tetap melihat potensi usaha yang bisa dikerjasamakan dengan Kadin di seluruh Indonesia.
“Ini start awal dari kerjasama, karena mereka baru pertama kali datang ke Indonesia. BKPM sebagai pintu dengan layanan one stop service jika tidak melakukan terobosan bagus, siapa yang berminat investasi di Indonesia.”
Apalagi, kata Eddy,mereka banyak belum tahu di Indonesia sudah ada perizinan terpadu satu atap. Beda dengan investasi baru, merger dan akuisis ini perusahaan yg sudah jalan yang diarahkan melakukan merger dan akuisisi.
Deputi Bidang Pengembangan Iklim Investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM),Farrah Ratna Dewi Indriani yang hadir pada kesempatan itu mengungkapkan,Global Scope sebagai host, dengan 538 anggota mencari info mengenai investasi di Indonesia.
“Kami dari BKPM sampaikan tahun telah meralisaikan investasi Rp 430 triliun.Tahun ini kami targetkan Rp519 Triliun per tahun (meningkat 19 persen) dan ini perlu banyak cari investor.”
Menurut dia, Ini peluang baik ada business matching, antara pengusaha lokal dengan anggota Global Scope.Namun dengan cara merger akuisisi, ada aturan untuk masuk ke Indonesia, Perpres ada UU Penanaman Modal, ada bidang usaha terbuka dan tertutup. “Mereka harus tahu environment investasi di sini. Mereka harus lihat kalau masuk ke sini dengan bermitra dengan pengusaha Indonesia. Kalau bisa dikembangkan akan lebih baik di Indonesia.”
Yang penting kata dia, mencari bidang usaha terbuka seperti bambu, rotan, harus ada mitra lokalnya.Untuk museum kata dia, tertutup untuk asing. Sebagai referensi bidang-bidang usaha untuk air minum, jalan tol maksimal terbuka 90 persen sisanya 10 persenĀ harus ada orang Indonesia.”Saya lihat merger dan akuisisi ini akan lebih bagus, karena kita yang tahu bagaimana iklim di sini. Untuk bidang usaha tertentu bisa 100 persen saham asing juga.”
Pemerintah sendiri mendorong investasi untuk pembangunan listrik 35 ribu MW dan usaha padat karya,maritim maupun substitusi impor.(fitri)
