JAKARTA (Pos Sore) –Sekretaris Jenderal,Kementerian Perindustrian, Anshari Bukhari mengungkapkan, persaingan ekonomi tingkat Asean 2015 (Masyarakat Ekonomi Asean) di bidang tenaga kerja sektor industri akan semakin berat. Untuk itu,Kementerian Perindustrian telah melakukan antisipasi dengan meningkatkan status sekolah tinggi kedinasan dibawah Kemenperin menjadi politeknik.Serta peningkatan kualitas balai pendidikan dan pelatihan (badiklat) yang ada.
“Dengan peningkatan status menjadi politeknik kita harus sediakan minimal 3 bidang studi.Kita sudah lakukan, tinggal pembenahan sarana prasarana karena jumlah siswa yang berminat juga terus meningkat 3 kali lipat dari daya tampung yang ada,”ungkap Anshari yang sudah memasuki usia pensiun,per 1 Maret 2015.
Sementara Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Kapusdiklat),Kemenperin, Mujiyono menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja sektor industri menghadapi MEA, pihaknya sudah menyiapkan tenaga ahli kompeten di bidangnya.
Langkahnya,kata Mujiyono dimulai dengan mengembangkan sekolah tinggi menjadi politeknik yang tidak hanya terbatas untuk jenjang status strata 3 (D3) semata.Akan tetapi juga dikembangkan menjadi D4,terapan dengan hingga ke S2/S3 terapan sebagai upaya meningkatkan kualitas lulusan berdaya saing tinggi dan mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja sektor industri.
“Ke depan,semua sekolah kita bangun berbasis kompetensi dilengkapi kitchen vactory,tempat uji kompetensi dan lembaga sertifikasi profesi yang memenuhi kebutuhan sektor industri.”
Disamping itu,kata Mujiyono yang tak kalah penting, jika sudah menjadi politeknik, juga harus disiapkan tenaga pengajar berkualitas.Jika selama ini para dosennya masih terbatas dari direktur dan para kepala,ke depan akan dihaier dosen dari kalangan expert dan profesor.
Dengan cara ini,kata Mujiyono, paling tidak, tantang MEA, akan bisa dilalui dengan mulus. “Syukur-syukur bisa menghadang tenaga asing yang masuk bahkan bisa kerja di luar negeri juga.”
Karena,kata dia, yang paling terancam dalam persaingan menghadapi MEA adalah tenaga kerja sektor industri padat karya seperti Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT),alas kaki dan lainnya.
“Industri ini sangat padat tenaga kerja.Kalau kita tak mampu memenuhi sementara kebutuhannya sangat banyak, tentu akan diserbu pekerja asing dengan kompetensi bagus.Ini yang harus diwaspadai.”
Dengan membangun sekolah berbasis kompetensi dan mampu mencetak tenaga kerja berbasis kompetensi dan berdaya saing tentunya akan mampu menjawab tantangan pasar bebas.
Ia mencontohkan di balai diklat industri, diterapkan sistem tree in one dimana para lulusan dibekali pelatihan yang mumpuni,diberikan sertifikat kompetensi dan ditempatkan bekerja.
“Tahun ini saja kita melatih 1700 di balaii diklat dan setelah lulus diberikan sertifikat kompetensi dan ijazah.”
Mujiyono mengatakan,Kemenperin saat ini memiliki 9 SMK dan 8 politeknik. “Jumlah ini memang masih terbatas.Makanya, ke depan,kita berencana membangun akademi komunitas di setiap kawasan industri.”
Seperti, di Solo Tekchnopark fokus untuk bidang industri TPT,di Cilegon Banten untuk bidang industri petrokimia dan Morowali Mandar juga akan dibangun politeknik. “Jadi nantinya,setiap kawasan industri harus ada sekolah yang siap memenuhi kebutuhan kawasan industri.Ini juga sesuai dengan amanat UU kita.” (fitri)
