YOGYAKARTA (Pos Sore) –Di tengah booming pertumbuhan dan permintaan kerajinan perak,industri ini malah mengalami kesulitan bahan baku dan sumberdaya manusia terampil yang bisa menggenjot produksi.
“Kita masih terkendala dalam mendapatkan bahan baku perak dengan mudah dan murah,” ungkap salah satu pengrajin HS Silver, Ismunandar, saat peninjauan ke industri rumahan di Kota Gede, Yogyakarta, Selasa (17/2/2015).
Tak hanya itu, pihaknya juga kesulitan mencari generasi terampil sebagai pengrajin perak dan alat dalam menggenjot kapasitas produksi.
“Kita berharap pemerintah dapat menstabilkan harga perak dan mencegah kelangkaan agar industri perak di negeri ini terus meningkat.”
Ia memaparkan, sejauh ini,pihaknya memperoleh bahan baku dari PT Aneka Tambang, juga dari pasar bebas. “Namun, sekarang,bahan baku impor juga sulit didapat, harganya tidak stabil dan selalu berfluktuatif.”
Saat ini, kata dia, harga perak telah mencapai Rp7-7,5 juta/kg, sementara untuk menyetok bahan baku saja dibutuhkan 30-40 kg/bulan.
“Harga saat ini mahal, karena idealnya harga bahan baku di kisaran Rp5-6 juta/kg.”
Akibat mahalnya bahan baku ini, harga jual produk HS Silver yang kebanyakan berupa aksesoris, terkerek naik hingga rata-rata berada di atas Rp100 ribu/pieces.
Namun demikian Ismunandar mengaku, pada 2014 silam omset perusahaan meningkat 2% karena 60% dari hasil produksi HS Silver di ekspor ke Eropa seperti Italia dan Inggris.
“Kita berharap pemerintah dapat menstabilkan harga perak dan mencegah kelangkaan agar industri perak di negeri ini terus meningkat,” harapnya.
Soal kesulitan mendapatkan pengrajin,alasan, para generasi muda Yogyakarta dan sekitarnya lebih memilih bekerja di bidang lain dibanding menjadi pengrajin perak, setelah lulus SMA. (fitri)
