JAKARTA (Pos Sore) — Biasanya ketika pria mengalami disfungsi ereksi (DE) akan dipendamnya seorang diri. Tak heran, jika masalah DE ini tidak jarang menyebabkan depresi dan stress. Bukan si pria saja yang mengalami kegalauan yang teramat sangat, pasangannya pun akan mengalami hal yang sama. Karenanya, komunikasi dengan pasangan penting dilakukan dalam pengobatan disfungsi ereksi.
“Nah, sang istri harus mampu mengomunikasikan kepada suaminya jika merasa ada masalah ketidakpuasan seksual karena ereksi yang tidak optimal. Dan sang suami harus mau menerimanya agar segera konsultasi ke dokter dan dilakukan terapi sehingga tak semakin parah,” kata psikolog seksual, Zoya Amirin, dalam peluncuran website www.tinggalminta.com yang diadakan Pfizer Indonesia, di Jakarta, Selasa (16/2).
Sayangnya, penderita DE biasanya merasa malu untuk memeriksakan kondisinya ke dokter karena DE masih dianggap tabu untuk dibicarakan. Data survey Decision Fuel (2013) oleh Pfizer menunjukkan sebanyak 59% responden pria di Indonesia kurang nyaman bahkan tidak mau berbicara dan berkonsultasi dengan dokter.
Harus diingat, kesehatan seksual penting untuk diperhatikan karena bisa memengaruhi keharmonisan rumah tangga. Karenanya, penting memahami tingkat kepuasan seksual masing-masing pasangan. Harus diingat, kepuasan seksual dapat memengaruhi kualitas hidup.
Menurutnya, disfungsi ereksi atau ketidakmampuan alat vital pria untuk mencapai dan mempertahankan kondisi ereksi ketika melakukan hubungan seksual memang sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis. Misalnya, rasa takut tidak bisa memuaskan pasangan, atau merasa minder dengan ukuran alat vital. Kondisi ini seringkali menjadi penyebab ketidakmampuan pria untuk ereksi.
“Bukan hanya masalah fisik dan hormon, disfungsi ereksi juga sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis. Pria juga biasanya lebih sering mengingat kegagalannya saat melakukan hubungan seksual, dan itu bisa memengaruhi kepercayaan dirinya,” terang Zoya Amirin, dalam diskusi ‘Disfungsi Ereksi: ‘Hilangkan Malu Bertanya Sesat di Kamar’, di kesempatan yang sama.
Bila tidak diatasi, disfungsi ereksi, bisa memengaruhi kualitas hidup pria hingga 70 persen. Karenanya, dibutuhkan penanganan psikolog untuk mengikis faktor psikologis tersebut.
“Pria yang mengalami disfungsi ereksi bisa menurun kualitas hidupnya. Kehidupan rumah tangganya juga menjadi tidak bahagia, bahkan tidak jarang menyebabkan depresi,” tandasnya. (tety)
