JAKARTA (Pos Sore) — Kementerian Koperasi dan UKM berkomitmen menyediakan fasilitas sarana pengolahan minyak atsiri koperasi. Komitmen ini tidak lepas karena Indonesia, salah satu negara penghasil minyak atsiri terbesar di dunia.
Sebanyak 85% kebutuhan minyak atsiri dunia dipasok dari Indonesia. Dari 80 jenis minyak atsiri yang diperdagangkan di pasar internasional, 40 jenis di antaranya dapat diproduksi di Indonesia.
“Bersyukurlah Indonesia berada di negara tropis dengan dilimpahi berbagai kekayaan alam,” kata Deputi bidang Produksi Kementerian Koperasi dan UKM, I Wayan Dipta, di Jakarta, Jumat (13/2).
Sebenarnya, sejak 2010-2014, Kemenkop telah menyalurkan bantuan pengembangan usaha senilai Rp1,25 milyar kepada 5 koperasi di 5 propinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, DIY, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara, yang bergerak di bidang pengolahan minyak atsiri.
Pada tahun ini program sejenis akan dilanjutkan dengan sasaran pengembangan berdasarkan komoditas unggulan masing-masing pada daerah potensi. Di antaranya, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, NTT, Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, dan Papua.
Ia mengatakan beberapa minyak atsiri unggulan seperti nilam, serai wangi, cengkeh, jahe, pala, lada, kayu manis, cendana, melati, akar wangi, kenanga, kayu putih, dan kemukus. Minyak atsiri ini biasanya digunakan untuk produk kosmetik, parfum, farmasi, esesnce, dan penambah rasa.
Banyak negara luar yang membeli berbagai jenis bunga kering dari Indonesia untuk diolah menjadi minyak atsiri. Bunga kering ini harganya cukup mahal, bisa mencapai Rp20 ribu/kg.
“Beberapa minyak atsiri unggulan seperti minyak nilam telah memberikan pangsa pasar lebih dari 90% kebutuhan dunia atau sekitar 35-40% dari total nilai ekspor minyak atsiri,” ujarnya.
Sementara untuk ekspor minyak daun cengkeh dan turunannya telah menyuplai lebih dari 70% dari kebutuhan dunia. Dan, lebih dari 90% kebutuhan dunia untuk minyak pala disuplai oleh Indonesia.
Menurutnya, keberadaan lembaga koperasi yang berfungsi sebagai pengepul dan pengolah minyak atsiri, penting diberdayakan. Seperti dialami KSU Masyarakat Sejahtera di Sulawesi Selatan. Sebelumnya, koperasi ini hanya mampu melakukan usaha pengepulan bahan baku nilam milik para anggotanya. Sedangkan untuk pengolahannya, koperasi terpaksa harus bekerjasama dengan pihak swasta dengan cara titip suling atau sewa.
Akibatnya, keuntungan yang diperoleh berkurang akibat biaya sewa. Dengan permodalan terbatas, koperasi hanya dapat mencapai volume usaha sebesar Rp270 juta/tahun.
Pada 2014, koperasi ini mendapatkan bantuan dari Kementerian Koperasi dan UKM berupa sarana pengolahan minyak atsiri.
“Dengan bantuan tersebut, koperasi tidak lagi hanya jadi penampung hasil panen nilam anggota tetapi sudah dapat memiliki unit usaha pengolahan nilam sendiri dengan volume usaha selama 1 bulan mencapai Rp75 juta,” ungkapnya.
Ia menandaskan, pengembangan pengolahan minyak atsiri melalui pemberdayaan koperasi menjadi langkah strategis dalam memacu pertumbuhan perekonomian daerah.
Selain itu, dapat meningkatkan kesempatan kerja, nilai tambag, dan daya saing minyak atsiri. Caranya, dengan perbaikan mutu, kontinuitas supply, pembinaan yang terintegrasi, dan pemanfaatn teknologi tepat guna. (tety)
