JAKARTA (Pos Sore) — Dampak konflik hingga kini masih dirasakan oleh masyarakat Maluku, khususnya anak-anak. Dampak traumatik, degradasi moral, sikap dan perilaku, yang paling dirasakan oleh mereka.
Karenanya, Dewan Pembina Persatuan Anak Muda Maluku (PAMM), Syamsul Notanubun, menilai masyarakat Maluku masih memerlukan bimbingan konseling, terapi mental dan kejiwaan.
“Yang bisa kita petik hikmah dari konflik yang pernah terjadi antara lain karena lemahnya spirit kemalukuan dalam konteks kehidupan orang basudara sebagai kekuatan civil society,” katanya.
Ia mengatakan hal itu dalam Diskusi Kampung bertema ‘Merajut Kebersamaan Dalam Bingkai Orang Basudara Menuju Porto – Haria yang Aman, Damai dan Sejahtera’, di perbatasan Porto – Haria, Maluku, belum lama ini.
Sebanyak 100 peserta menghadiri diskusi ini meliputi unsur pemuda, paguyuban mahasiswa, masyarakat, tokoh pemuda dan tokoh adat Negeri Porto dan Negeri Haria, Maluku Tengah, dari kedua belah Negeri/desa yang pernah bertikai Porto dan Haria.
Menurutnya, jika hal tesebut tidak segera ditangani akan mengakibatkan terkikisnya kehidupan masyarakat dari sifat kemanusiaan dan perdamaian. Di sisi lain para stockholder di desa ini juga akan semakin kuat dominasi dan hegemoninya, bukan kekuatan etik pengayomannya.
Sementara itu, Plt. Camat Saparua Agustinus Pattiasina, berharap, Diskusi Kampung yang bisa dijadikan momentum mewujudkan persatuan dan kesatuan di kedua desa, tidak hanya bersifat seremonial semata. Tapi harus ditindaklanjuti dengan nyata.
Raja Negeri Haria J.M Manuhutu, menambahkan, undang-undang dan peraturan pemerintah yang menyangkut negeri/desa perlu mendapat penyesuaian mengingat selalu saja bertentangan dengan adat istiadat dan budaya setempat. Contoh kasus soal jabatan kepala desa atau raja negeri.
Budayawan Rudy Fofid, menimpali, sesungguhnya ada semangat Basudara kita dalam membangun kehidupan bersama. Karena itu, ego sektoral kita harus dihilangkan.
Pihaknya juga menghimbau untuk membangun kembali kehidupan Basudara di Porto Haria guna menciptakan ‘laboratorium social’ hidup bersama. Karena dari dahulu katong orang Maluku bukan dikenal karena cengkeh dan pala, melainkan dari tradisi ‘pela deng gandong’ yang saat ini diperlukan dalam mentransformasikannya bagi perdamaian dan kemanusiaan khususnya di Maluku.
Selain diskusi, juga diisi berbagai kegiatan seni dan budaya yang diberi nama peduli vor Negeri 2015 di Negeri Porto dan Haria. Bertema ‘Dengan Seni dan Budaya Lokal kita Merajut Kebersamaan Dalam Bingkai Orang Basudara Menuju Porto – Haria Yang Aman, Damai dan Sejahtera’. (tety)
