BOGOR (Pos Sore) — Indonesia Indonesia menjadi negara yang paling rawan terhadap bencana di dunia berdasar data yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana (UN-ISDR).
Tingginya posisi Indonesia ini dihitung dari jumlah manusia yang terancam risiko kehilangan nyawa bila bencana alam terjadi. Indonesia menduduki peringkat tertinggi untuk ancaman bahaya tsunami, tanah longsor, dan gunung berapi. Indonesia juga menduduki peringkat tiga untuk ancaman gempa serta enam untuk banjir. Dan, tsunami memang ancaman yang paling mengkhawatirkan bagi semua Negara.
Karenanya, dibutuhkan sumberdaya manusia yang menguasai kebencanaan. Institut Pertanian Bogor (IPB) pun diminta membuat program studi mengenai manajemen bencana atau disaster management.
“Kami harap IPB buat program magister manajemen bencana, S-2 dan S-3 dengan kompetensi pertanian. Karena sejauh ini untuk pertanian belum ada,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.
Sutopo mengungkapkan permintaan itu di sela Pertemuan Masyarakat IlmiahTahunan (PIT) XX yang digelar Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia (MAPIN) bekerjasama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), di kampus IPB Bogor, Kamis (5/2).
Dikatakan, sektor pertanian selalu erat kaitannya dengan bencana, terutama penanganan pascabencana. Lihat saja banyak bencana yang merusak lahan pertanian warga, kemudian banyak warga yang enggan berpindah mencari lahan pertanian baru.
Ia mengatakan, beberapa universitas di Indonesia sudah memiliki prodi manajemen bencana yang bekerja sama dengan pihak BNPB dalam hal penanganan bencana alam. Namun, perlu lebih diperluas agar permasalahan bencana tidak menimbulkan kerugian besar.
“Bencana menimbulkan kerugian ekonomi sekitar RP30 triliun lebih, sementara dana cadangan yang ada di Kementerian Keuangan hanya Rp3 triliun. Permasalahan kebencanaan ini tidak selesai-selesai karena duitnya kecil. Terlebih, belum selesai dengan bencana yang satu muncul lagi bencana yang lain. Karena itu, penanggulangan bencana harus berdasarkan asas iptek yang sesuai bidangnya,” tambahnya.
Misalnya, saat bencana tanah longsor di Banjarnegara, Universitas Gajah Mada (UGM) ikut memasang lima unit ‘landslide early warning system’ (LEWS) di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Selain dari UGM, sepuluh unit LEWS dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) Badan Geologi juga dipasang di sejumlah daerah. LEWS serupa juga dipasang oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di berbagai titik lainnya.
Guru Besar Tetap Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Anas Miftah Fauzi, menanggapi serius permintaan dari pihak BNPB. “Kami menyambut baik dan memang sudah berencana membuat program magister profesi. Diharapkan mahasiswa bisa mengerti tentang satelit dan menerapkannya,” katanya.
Di IPB sendiri sudah memiliki Pusat Studi Bencana, yang menjadi pusat studi terkemuka dalam mengkaji penanggulangan bencana secara holistic untuk mengembangkan strategi komprehensif dan integratif dalam peningkafan efektivitas dan efisiensi penanggulangan bencana. (tety)
