JAKARTA (Pos Sore) — Program tol laut yang menjadi salah satu andalan pemerintahan Presiden Joko Widodo, dinilai mantan Menteri Kesehatan, Prof. Farid Anfasa Moeloek, program yang tepat.
“Dengan adanya tol laut, tak hanya permasalahan transportasi dan ekonomi Indonesia yang dapat teratasi, tetapi juga masalah kesehatan,” kata suami Menkes, Nila F. Moeloek, ini dalam diskusi Community Development, di Kantor PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Selasa (3/2).
Dokter spesialis kandungan ini sangat mendukung program tol laut. Program tol laut Presiden Jokowi yang menyasar pertumbuhan ekonomi dan kemudahan transportasi, secara otomatis juga akan membantu peningkatan pembangunan kesehatan.
Dalam diskusi yang dipimpin Ketua Umum PB IDI, dr. Zaenal Abidin, Prof Moeloek menandaskan, program tol laut akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di pulau-pulau terpencil Indonesia. Ketika ekonomi tumbuh, tentu saja akan menarik bagi masyarakat, terutama dari kalangan profesi seperti dokter, guru hingga perawat dan bidan.
Ketika tenaga kesehatan tercukupi, tentunya kualitas dan pembangunan kesehatan di daerah tersebut akan meningkat.
“Contohnya saya. Saya dokter kandungan. Di Jakarta ada seribu lebih dokter kandungan, tapi nggak ada satu pun di Kepulauan Seribu. Kenapa? Karena di sana nggak menarik,” ungkapnya.
Meski ada Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), jaminan tersebut tidak akan berguna jika tenaga kesehatan yang melayaninya tidak ada atau kurang. Karenanya, program tol laut diharapkan mampu juga mendorong pemerataan tenaga kesehatan.
“Kalau Kepulauan Seribu sudah maju, ada pertumbuhan ekonomi, dokter, perawat, bidan dan guru pasti mau datang ke sana. Karena kalau ekonomi tumbuh tentunya tingkat kesejahteraan meningkat,” tandasnya.
Menurutnya, ada lima pilar utama dalam paradigma kesehatan. Pertama, ketersediaan air bersih untuk setiap orang. Kedua, gizi sehat untuk setiap golongan umur. Ketiga, perumahan, lingkungan dan sanitasi sehat. Keempat, perilaku hidup bersih dan sehat. Kelima, dukungan medis dan jaminan kesehatan.
Sayangnya pemahaman yang tidak utuh terhadap lima pilar ini cenderung hanya memfokuskan kepada upaya-upaya kuratif yang bertumpu pada upaya-upaya medis saja untuk menyembuhkan penyakit.
Padahal, peran empat pilar lainnya sangat penting. Bahkan, untuk mewujudkan suatu kehidupan masyarakat yang sehat, keempat pilar pertama memainkan peran sebesar 70%, sedangkan medical backup hanya sekitar 30% saja.
“Nah, di sinilah peran program Tol Laut yang dicanangkan Presiden Jokowi, yang saling menghubungkan daerah-daerah terpencil dengan pusat kota sehingga pendistribusian tenaga medis pun merata,” katanya lagi dalam diskusi yang dimoderatori Sekjen PB IDI, dr. Daeng Faqih, itu. (tety)
