17.3 C
New York
07/05/2026
Aktual

Menristekdikti: Kopertis akan Dihapus

JAKARTA (Pos Sore) — Keberadaan Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) yang selama ini bertugas sebagai lembaga yang mengordinir perguruan tinggi swasta akan segera dihapus. Alasannya, lembaga itu menimbulkan kesenjangan antara PTS dan PTN yang juga memunculkan masalah komunikasi.

“Nanti lembaga ini diganti dengan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi atau L2Dikti. Dihapuskannya kopertis ini agar tak ada pemisahan antara perguruan tinggi swasta (PTS) dan perguruan tinggi negeri (PTN),” kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Muhammad Nasir, dalam Forum APTISI ‘Higher Education Stakeholder Dialogue’ bertema ‘Solusi Kebijakan Pendidikan Tinggi untuk Tercapainya Daya Saing Indonesia di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)’, di Jakarta, Kamis (8/1).

Jika sebelumnya Kopertis hanya mengordinir atau melayani PTS saja, maka lembaga baru itu untuk menaungi PTN dan PTS. L2Dikti ini memiliki satu kesamaan. Selama ini urusan pembinaan PTS ada di Kopertis sehingga ada suatu kesenjangan informasi. Tak heran jika memunculkan keluhan dan protes. Selain itu, terjadi kesenjangan informasi antara pemerintah dan swasta.

“Dengan memanfaatkan L2 Dikti, mudah-mudahan permasalahan perguruan tinggi swasta ke depan menjadi baik dan kualitas sumber daya menjadi lebih baik. Ke depan, pihanya ingin mendorong kualitas layanan yang baik,” tegasnya.

Terkait Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA, menurutnya, pendidikan tinggi di Indonesia perlu menyiapkan generasi muda yang profesional dan berdaya saing agar dapat menjadikan bangsa Indonesia pemenang dalam persaingan ekonomi bebas di dalam negeri sendiri. Solusi yang terbaik untuk Indonesia dalam menghadapi MEA melalui forum Aptisi.

“Harus dipahami Kemenristekdikti mempunyai kelemahan yang harus diatasi bersama. Pokoknya akan kita hapuskan dikotomi antara PTS dan PTN. Dihilangkannya dikotomi tersebut, meski PTN memiliki masalah mengenai dana dan PTS mengenai pengelolaan, bagaimana pendidikan tinggi mencapai yang terbaik dihadapan luar negeri,” ujarnya.

Indonesia sendiri, katanya, sudah ketinggalan dalam menghadapi persaingan yang berkembang dan pesat. Dalam menghadapai MEA, perlu melakukan rekonstruksi kebijakan di Kemenristekdikti. Karena itu, nanti dicoba bangun komunikasi yang baik antara PTN dan PTS dalam satu forum.

“Kalau secara kualitas, mari kita bangun antara PTN dan PTS, tapi kita harus menganalisis SWOT PTN dan PTS,” ucapnya. (tety)

Leave a Comment