JAKARTA (Pos Sore) – Lembaga survei Myriad Research Comitted dan PT Sufocindo (Persero) melakukan survei pada kurun September-Nopember 2014. Hasilnya, BPJS Kesehatan dinilai sukses memenuhi komitmennya untuk melayani kebutuhan dasar kesehatan masyarakat Indonesia.
Dari 17.280 responden masyarakat dari berbagai kategori, sebanyak 81 persen menyatakan puas terhadap BPJS Kesehatan. Tingkat kepuasan ini jelas melampaui target pemerintah yang hanya mematok angka 75 persen.
“Ini adalah gambaran kepuasan yang merupakan gabungan dari indeks kepuasan peserta terhadap fasilitas kesehatan tingkat pertama atau FKTP, fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan atau FKRTL, kanator cabang dan BPJS Kesehatan Center,” ungkap Eva Yusuf dari Myriad Research Comitted di sela diskusi media, Jumat (2/1), di Jakarta.
Direktur Komersial I PT Sucofindo, Heru Riza Chakim, mengatakan dari 10.202 responden yang diambil dari 12 devisi regional di seluruh Indonesia, ternyata 95 persen telah mengenal BPJS Kesehatan dengan baik. Itu artinya awareness dan efektivitas iklan serta sosialisasi BPJS Kesehatan sudah cukup baik. Bandingkan pada 2013 tingkat awareness masyarakat terhadap pelaksanaan program jaminan kesehataan hanya sebesar 58 persen.
“Jadi setelah setahun beroperasi terjadi kenaikan awareness yang cukup signifika,” jelasnya.
Berdasarkan hasil survei hal pertama yang terlintas di benak masyarakat tentang BPJS Kesehatan adalah berobat gratis, disusul dengan asuransi kesehatan rakyat, pengganti Askes dan bantuan kesehatan.
“BPJS Kesehatan juga masih diasosiasikan sebagai asuransi bukan sebagai penyelenggara jaminan sosial kesehatan,” tambahnya.
Namun, secara umum awareness masyarakat terhadap BPJS Kesehatan sudah tinggi. Awareness tertinggi berasal dari responden pekerja sektor formal. Dan televisi menjadi sumber informasi tertinggi dalam perolehan awareness tersebut disusul dari mulut kemulut, media sosial dan media cetak maupun radio.
Meski survei yang dilakukan dua lembaga tersebut memberikan hasil positif, ada beberapa catatan perlu mendapat perhatian dari BPJS Kesehatan. Hal-hal tersebut meliputi kelengkapan jenis obat, kesungguhan melayani, keramahan, kesabaran dan kesediaan menangani. Kemudian kualitas obat yang diberikan peserta menjadi sorotan, juga kepastian dan rasa aman dalam memperoleh pelayanan di faskes.
Dari segi fasilitas kesehatan, yang harus diperhatikan meliputi besaran kapitasi, dan keterjangkauan lokasi BPJS. Lalu perlunya diperhatikan keluhan dari Puskesmas atau klinik, kecepatan BPJS Kesehatan menanggapi permintaan informal, kemudahan pengajuan klaim non kapitasi serta kemudahan mengakses P-care. (tety)
