7.4 C
New York
23/04/2026
AktualEkonomi

Di Masa Depan, Masyarakat Butuh Kota Layak Huni

JAKARTA (Pos Sore) — Berapa jumlah penduduk dunia di akhir abad ke-21 atau di tahun 2100? Jumlahnya cukup mencengangkan: 11 miliar manusia! Terbayang betapa padatnya penghuni bumi ini. Kota-kota di dunia pun akan makin padat penduduknya karena derasnya kaum urban.

Angka ini diperoleh berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Perusahaan minyak dan gas, Shell. Dari hitung-hitungannya, pada 2050 saja ada sekitar tiga perempat atau 9 miliar dari populasi di dunia, akan tinggal di perkotaan.

“Dari segi ekonomi ini bisa jadi peluang, tapi sekaligus tantangan yang sangat berat bagi sistem dan sumber daya. Bertambahnya jumlah penduduk yang terus meningkat membuat layanan kota akan semakin tidak efektif,” ujar Chief Political Analyst in the Global Business Environment team, Shell International, Cho-Oon Khong , di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (18/12) malam.

Dikatakan tak efektif karena kota tidak dapat menyediakan fasilitas layanan infrastruktur untuk mewadahi aktivitas masyarakat sehari-hari di kota yang semakin padat. Jadi, ke depan akan makin banyak masyarakat kota yang tidak merasa nyaman lagi tinggal di kota. Kepadatan penduduklah yang membuat ruang kota semakin sempit, kemacetan dan kerusakan lingkungan.

“Jika tidak ditangani dengan baik, urbanisasi akan memicu penurunan kualitas hidup, degradasi lingkungan makin tinggi, percepatan emisi gas CO2, masalah sosial dan politik. Kehidupan perkotaan ini tentunya akan membuat kebutuhan air, makanan dan energi meningkat,” tandasnya.

IMG-20141218-07880

Menurutnya, di masa depan masyarakat kota membutuhkan lingkungan yang layak huni untuk mereka atau yang disebut Livable City. Livable City menjadi kata kunci dalam perencanaan kota, karena dapat menyelesaikan berbagai masalah kota yang menganggu kenyamanan dengan cara menaikkan kualitas hidup masyarakatnya.

Misalnya dengan kemudahan mengakses infrastruktur (transportasi, komunikasi, air, dan sanitasi), makanan, udara bersih, perumahan yang terjangkau, lapangan kerja serta ketersediaan ruang dan taman hijau.

“Karenanya diperlukan optimalisasi penggunaan sumber daya energi yang mengontrol dan mengintegrasi semua infrastruktur serta kegiatan pemeliharaan dan keamanan dipercayakan kepada penduduknya. Dan pemerintah harus mendukung pembangunan sebuah kota layak huni berdasar tingkat persoalan yang ada,” paparnya.

Shell sendiri sudah melakukan riset bertahun-tahun dan mendukung terciptanya kota layak huni bagi penduduknya di masa depan.

“Salah satunya dengan menggunakan energi yang lebih efisien sehingga membantu melestarikan sumberdaya dan mengurangi efek gas rumah kaca,” tuturnya. (tety)

Leave a Comment