PERINGATAN World Prematurity Day atau Hari Prematuritas Sedunia 2014 memang sudah berlalu. Namun, bukan berarti gaungnya berhenti pada 17 November saja. Tanggal peringatan WPD itu harus terus didengungkan, sehingga Indonesia juga turut memperingatinya secara nasional.
Adalah Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Sardjito Yogyakarta yang memelopori peringatan WPD. Pada Minggu (16/11), rumah sakit yang dipimpin Dr. Muhammad Syafak Hanung, memperingati WPD dengan mengangkat tema ‘Berikan Bayi Prematur Lebih Dari Sekedar Selamat’ di Taman Pintar Yogyakarta. Bisa jadi, satu-satunya rumah sakit yang memperingati WPD, ya RSUP dr. Sardjito. Dan, ini kali pertama Indonesia memperingatinya!
Bukan tanpa sebab mengapa RS plat merah itu memperingati WPD. Ketua Panitia kegiatan itu, Dr. Setya Wandita, SpA, beralasan angka kematian bayi yang disebabkan kelahiran prematur itu cukup besar. Indonesia sendiri termasuk negara kesembilan dari 11 negara berkembang di dunia yang angka kelahiran bayi prematurnya cukup tinggi.
Rupanya kelahiran bayi prematur ini menyumbang angka kematian cukup tinggi. Lihat saja data Riset Kesehatan Dasar 2010 yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan. Angkanya cukup mencengangkan. Disebutkan, kematian pada bayi lahir berusia kurang dari satu tahun, sekitar 50 persennya ‘disumbang’ dari bayi prematur.
“Bayi yang lahir prematur memiliki tingkat resiko kematian yang lebih tinggi daripada bayi yang lahir normal. Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum umur kehamilan 37 minggu. Semakin prematur bayi lahir maka akan semakin rentan resiko kematiannya,” kata Dr. Setya Wandita, SpA menjelaskan.
Resiko kematian akibat bayi prematur ini disebabkan banyak faktor. Mulai dari kondisi organ tubuh bayi yang belum tumbuh bagus, juga perawatan bayi prematur yang membutuhkan peralatan medis sangat kompleks.
Itu sebabnya, RSUP dr. Sardjito ingin menyosialisasikan kepada masyarakat bagaimana cara penanganan yang benar terhadap bayi prematur. Bagaimana bayi yang lahir secara prematur tidak hanya selamat atau hidup saja, tetapi juga tumbuh kembangnya baik dan normal seperti bayi-bayi yang lahir dalam cukup bulan.
“Maksudnya perawatan bayi tidak berhenti saat selamat saja, namun pengawasan terhadap tumbuh kembang bayi setelah itu, hal yang sangat penting,” tandas dr. Setya yang juga konsultan tumbuh kembang anak, saat ditemui di Jakarta.
Karena itu, ke depan, pihaknya berharap pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, juga menetapkan WPD untuk diperingati secara nasional seperti halnya hari-hari kesehatan lainnya.
Diharapkan dengan cara seperti itu semua elemen masyarakat mengetahui cara penanganan terhadap bayi prematur, sehingga bayi-bayi ini juga bisa tumbuh kembang dengan normal.
Itu dibuktikan dengan kehadiran 125 anak yang dulunya terlahir secara prematur dan dirawat di RSUP dr Sardjito pada WPD lalu. Anak-anak itu tumbuh normal. Paling tua berusia 16 tahun, yang duduk di bangku SMA.
“Pihak rumah sakit ingin menunjukkan, perawatan terhadap bayi prematur tidak berhenti saat selamat saja, namun diperlukan suatu pengawasan terhadap tumbuh kembang bayi di masa mendatang. Kami juga ingin menghilangkan anggapan bayi prematur tumbuh kembangnya tidak sama dengan bayi normal,” tandas Kepala Instalasi Maternal Perinatal (IMP) RSUP dr Sardjito itu.
Karenanya, patut diacungi jempol bagi tim medis Perinatal RSUP Dr. Sardjito yang memprakarsai WPD. Selain dr. Setya Wandita, Sp. A (K), M.Kes, mereka adalah dr. Ekawaty Lutfia Haksari, Sp. A(K), MPH; dr. Tunjung Wibowo, MPH., M.Kes., Sp. A(K), dan dr. Alifah Anggraini, M.Sc, Sp.A. (tety)


