JAKARTA –Ketua Asosiasi Pengusaha Bakery Indonesia, Chris Hardijaya mengatakan, ketergantungan bahan baku impor sebagai bahan pembuat roti harus diakhiri dengan mengembangkan ubi dan labu. Ini penting dilakukan mengingat omset penjualan yang cukup tinggi menembus 20 triliun hingga September 2014.
Mesin dan oven berteknologi tinggi ini bisa diketahui dan didapat di pameran dalam luar negeri.Seperti di pameran
Iba di Munich,Jerman mendatang.”
Kecuali itu,katanya, untuk memaksimalkan produksi di tengah naiknya harga gas,listrik dan kemungkinan Bahan Bakar Minyak (BBM), saatnya pelaku usaha roti dan kue mengganti mesin dan oven berteknologi tinggi agar lebih efisien.
“Mesin dan oven berteknologi tinggi ini bisa diketahui dan didapat di pameran dalam luar negeri.Seperti di pameran
Iba di Munich,Jerman mendatang,” ungkapnya di sela presentasi Pameran Iba, 12-17 September,Kamis (23/10).
Terkait pelaksanaan pameran Iba Jerman, menurut Ketua Konfederasi Baker Jerman, Peter Becker, pameran ini sangat bermanfaat bagi pengusaha roti dan kue agar lebih memiliki pilihan mesin berteknologi tinggi untuk membuat roti.
“Saya harap banyak pengusaha Indonesia bisa datang di pameran ini nanti.Karena hingga saat ini belum ada pengunjung dari Indonesia yang konfirm hadir. Nanti bisa dikoordnasikan dengan Ekonid (Perkumpulan Ekonomi Indonesia Jerman) atau kedutaan Besar untuk berpartisipasi.
Chris memaparkan, pentingnya menggunakan mesin berteknologi tinngi kalaupun hargnya mahal. Ia menganalogikan dengan harga mesin Rp100 juta justru akan terasa manfaatnya dalam 3 tahun.
“Kalau pakai oven biasa sehari bisa menghabiskan 4 tabung LPG 12 kg seharga Rp480 ribu. Kalau pakai oven berteknologi tinggi bisa menghemat 2 tabung (Rp240 ribu). Dalam sebulan dana ini bisa digunakan untuk mencicil mesin.”
Sehubungan dengan isu kenaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi yang diperkirakan Rp 3.000/liter,menurutnya, akan berdampak pada kenaikan harga harga roti dan sejenisnya hingga 15%.
“BBM belum naik saja gara-gara elpiji dan listrik, sudah naika.”
Akibat kenaikan elpiji dan listrik, katanya, maka biaya produksi naik hingga 4%. Karena kebanyakan dari pengusaha roti di Indonesia adalah usaha kecil dan menengah (UKM) yang masih menggunakan teknologi yang tradisional.
Untuk satu mesin tradisional, UKM tersebut harus menyediakan 4 tabung elpiji 12 kg. “Biaya produksi bertambah sampai 4%. Mau nggak mau, menengah ke bawah menyesuaikan harga penjualan 10%-15%.”
Kenaikan harga tersebut juga akan kembali terjadi ketika Presiden Jokowi jadi menaikan harga BBM bersubsidi, meski belum dipastikan. Jika harga BBM bersubsidi naik Rp 3.000/liter, maka kenaikan harga produk roti, kue tradisional, kue kering dan sejenisnya pun bakal ikut naik sampai 15%.
“Bukan naik BBM-nya. Turunannya itu yang jadi besar. Kalau beli tepung kan tepungnya ikut naik, itu bukan hanya sedikit mereka naik.Jadi dampak turunannya itu yang lebih besar.” (fitri)
